Mengapa aku pergi dan berusaha menjauh darimu? Aku pikir, kamu sudah tahu jawabannya. Alasan mengapa aku harus pergi dan berusaha menjauh darimu adalah karena ulahmu sendiri. Pernah kamu melakukan sebuah kesalahan yang besar, yang bila wanita-wanita itu ada di posisiku mereka belum tentu mampu memahami dan menerimanya begitu saja. Hanya aku .. ya akulah yang memahami kesalahanmu, menerima dan memaafkanmu meski aku terluka dengan hebatnya tapi aku berusaha kokoh diatas cinta yang hampir rapuh, aku berusaha membangun kembali semua cinta dan kepercayaanku padamu. Kau tahu meski kadang aku berpikir negatif kepadamu, itu hanya sebuah alasanku semata-mata hanya untuk mengujimu. Kau dulu sempat berjanji setelah itu takan lagi melakukan kesalahan yang sama atau kesalahan lainnya, tapi ternyata semua janjimu itu hanya mampu diumbar oleh bibirmu namun tidak hatimu. Kamu mengingkari janjimu, tepatnya janji kita juga. Jadi jangan salahkan aku bila aku yang selama ini menjaga komitmenku yang juga komitmen cinta kita, menjadi digelapkan dengan emosiku dan berusaha mencari pelampiasan cinta. Tapi kau tahu, itu juga karena ulahmu. Untuk pertama kalinya aku sebegitunya karena kata-katamu, tingkahmu dan ulah kalian. Tapi ternyata hatiku tak bisa menjalaninya dan aku berhenti hanya dalam sehari. Aku mengecewakan dia yang tengah berharap padaku dan aku memilihmu, tapi saat aku memilihmu lagi-lagi kamu mengabaikan kita. Kata-kata menikam hatiku. Sekarang aku jadi bertanya, mengapa kamu sebegitu egoisnya? Kamu bisa dengannya tanpa kuketahui meski sudah kurasakan ada yang berbeda dan ada sesuatu antara kalian, tapi aku diam dan itu terjadi lama tanpa kuketahui. Tapi saat aku yang karena kata-katamu, ulahmu, pengingkaran janjimu dan pengabaianmu, aku mencari pelampiasan emosiku sehari, dan kamu menyudutkanku seolah bukan kamu yang memulai, seolah bukan kamu yang menyakitiku, seolah bukan kamu yang mengingkari janji kita dan sederetan sikapmu yang menyudutkanku seolah akulah pihak yang paling bersalah disini. Tahukah kamu ini menyakitiku? Lalu kemudian kamu menyuruhku pergi, karena kamu bilang kamu telah ada yang memiliki. Segampang itukah kamu menyakitiku? Bukankah kamu yang memulainya selama ini dan aku hanya dipengaruhi emosi sesaatku? Tapi baiklah .. terserah kamu saja. Toh jika aku memang penting dan berarti bagimu, kamu akan memahami posisiku yang terluka atas tingkahmu sendiri dan menyesali perbuatanmu kepadaku. Oke .. aku takan menjelaskan rinciannya karena sudah berulang kali kutegaskan padamu. Sekarang terserah padamu. Kalau kamu memang mencintaiku, kamu akan kembali dengan sebuah penyesalan dan permintaan maaf serta takut kehilanganku. Tapi jika tidak, maka baiklah terserah padamu. Aku tak ada kekuatan untuk itu. Karena aku sudah sangat rapuh semua karena ulahmu. Jadi terserah padamu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar