Aku tengah mempertimbangkan ini ..
Aku tak ingin mempermasalahkan ini lagi ! dan itu tandanya aku sedang berusaha untuk tak menyesali apa yang telah terjadi sejauh ini denganmu dan bila aku harus tanpamu.. Itu resiko telah sebegitunya mencintaimu tapi kamu malah tak memahamiku dan terus menyakitiku dengan pengabaianmu terhadap kita.
Ya, aku sengaja menuliskannya disini agar kau tahu aku sedang berusaha memberitahumu tentang isi hatiku bersama atau bila nanti tanpamu.
Mungkin awalnya saat aku akan tanpamu, tanpa aku sadari aku tengah berprasangka buruk dan bahkan kadang memaki diriku sendiri yang telah menyerahkan hatiku secara total kepadamu. Tapi mungkin pula pada akhirnya aku harus merelakan dan mengiyakan dengan kata-kata "ya udah deh.. terserah kamu saja, toh kamu tak mencintaiku dengan sungguh akhirnya sikapmu sebegitunya terhadapku, selalu mengabaikanku tanpa berpikir aku bertahan sejauh ini dan alasan terbaikku memilih bertahan selama ini terhadap kita" atau mungkin "ya udah deh.. terserah kamu saja, toh kamu lebih memilih duniamu daripada aku yang selalu kamu nomor sekiankan dan mungkin karena ada yang lebih baik disampingmu." Semuanya mungkin harus aku relakan dengan kata yasudah deh..
Kamu harus tahu kenapa aku harus berpikir seperti ini ! Harus ..
Kamu harus tahu kenapa aku sering sekali mengeluh terhadap kamu yang saat kita terpisah oleh jarak.
Semua ini karena kamu ! Kamu selalu mengabaikanku dan menomor sekiankan diriku saat kamu sibuk dengan duniamu.
Oke, anggap saja kamu benar-benar sibuk dan tak ada waktu untuk menghubungiku.
Tapi apa iya .. 24 jam yang Tuhan berikan kepadamu semuanya kamu lakukan tanpa istirahat dengan kesibukkanmu?
Kadang aku tertawa dengan ini, kadang aku merasa jengkel dan akhirnya jenuh karena kesepian kamu selalu menomor sekiankanku.
Oke, anggap saja duniamu benar-benar penting bagimu.
Tapi apa iya .. duniamu tak bisa kamu bagikan dengan orang yang "katanya" kamu cintai, dan orang itu adalah aku.
Kadang aku pun tertawa dengan ini. Kata cintamu terdengar hanya omong kosong karena tak ada alasan yang menguatkannya. Apa yang kamu tunjukkan tak sejalan dengan kata cintamu. Jadi aku berpikir kamu benar-benar tak mencintaiku. Eh, jangan salahkan aku menerka hatimu seperti ini. Tanyakan saja pada dirimu apakah aku ini berarti bagimu? Kalo iya, haruskah kamu terus mengabaikanku terlebih saat aku membutuhkanmu?
Oke, anggap saja masalah-masalah telah kita selesaikan tanpa ada pertemuan yang menguatkan terselesaikannya masalah itu. Tapi toh pada kenyataannya kita akan selalu dihadapkan pada masalah yang sama. Karena sikap ego kita yang tak ingin saling mendengarkan, mungkin kita perlu berbicara dari hati ke hati dan saling jatuh cinta pada orang yang sama lagi yakni kita. Tapi itu selalu tak kita lakukan.
Saat aku sakit, saat aku benar-benar merindukan sosokmu saat kita dekat dalam ribuan kilometer ini, saat aku sangat membutuhkanmu, kamu menganggapku layaknya seorang anak kecil yang sedang merengek dibelikan mainan padamu.
Mungkin aku nampak seperti itu. Tapi bukankah sudah kewajiban kita untuk saling mencintai, memberi dan menerima, untuk saling membahagiakan?
Tak bisakah kamu membagi sedikit waktumu saja untuk mendengarkanku bukan mengabaikan dan menomor sekiankan diriku? Dari sikapmu, kamu seolah sedang menjawab pertanyaanku dengan kata "iya, aku tak bisa"
Oke .. jadi karena itu, aku sudah mulai sadar untuk tak bersahabat lagi dengan rindu, untuk tak mencintai apa yang kuberi nama tangisan yang sering kutangisi saat malam.
Kini aku mulai bersahabat dengan rasa sakit dan kecewa karena telah diabaikan dan dinomor sekiankan olehmu.
Sekarang terserah saja padamu ..
Aku sudah tak ingin untuk mengetahui apapun dengan mencoba menerka pikiran dan hatimu yang nantinya pasti hanya akan menyakiti diriku sendiri. Terserahlah ..
Sekalipun kamu sudah melepaskanku sekarang, terserahlah ..
Sekalipun kamu sudah memiliki dia yang lebih baik dariku, terserahlahh ..
Sekalipun aku harus tanpamu, terserahlah .. aku sudah terbiasa menerima perlakuanmu selama dan sejauh ini.
Hanya saja terima kasih ..
Jangan salahkan aku bila suatu saat aku pun harus melepaskanmu, karena aku sudah terbiasa dilepaskan olehmu, diabaikan olehmu, dinomor sekiankan olehmu, disakiti olehmu, diselingkuhi olehmu, dan banyak perlakuan kejam dan apa yang kau anggap "ah biasa saja" mu itu terhadap apa yang kuberi nama kita.
Aku tak ingin mempermasalahkan ini lagi ! dan itu tandanya aku sedang berusaha untuk tak menyesali apa yang telah terjadi sejauh ini denganmu dan bila aku harus tanpamu.. Itu resiko telah sebegitunya mencintaimu tapi kamu malah tak memahamiku dan terus menyakitiku dengan pengabaianmu terhadap kita.
Ya, aku sengaja menuliskannya disini agar kau tahu aku sedang berusaha memberitahumu tentang isi hatiku bersama atau bila nanti tanpamu.
Mungkin awalnya saat aku akan tanpamu, tanpa aku sadari aku tengah berprasangka buruk dan bahkan kadang memaki diriku sendiri yang telah menyerahkan hatiku secara total kepadamu. Tapi mungkin pula pada akhirnya aku harus merelakan dan mengiyakan dengan kata-kata "ya udah deh.. terserah kamu saja, toh kamu tak mencintaiku dengan sungguh akhirnya sikapmu sebegitunya terhadapku, selalu mengabaikanku tanpa berpikir aku bertahan sejauh ini dan alasan terbaikku memilih bertahan selama ini terhadap kita" atau mungkin "ya udah deh.. terserah kamu saja, toh kamu lebih memilih duniamu daripada aku yang selalu kamu nomor sekiankan dan mungkin karena ada yang lebih baik disampingmu." Semuanya mungkin harus aku relakan dengan kata yasudah deh..
Kamu harus tahu kenapa aku harus berpikir seperti ini ! Harus ..
Kamu harus tahu kenapa aku sering sekali mengeluh terhadap kamu yang saat kita terpisah oleh jarak.
Semua ini karena kamu ! Kamu selalu mengabaikanku dan menomor sekiankan diriku saat kamu sibuk dengan duniamu.
Oke, anggap saja kamu benar-benar sibuk dan tak ada waktu untuk menghubungiku.
Tapi apa iya .. 24 jam yang Tuhan berikan kepadamu semuanya kamu lakukan tanpa istirahat dengan kesibukkanmu?
Kadang aku tertawa dengan ini, kadang aku merasa jengkel dan akhirnya jenuh karena kesepian kamu selalu menomor sekiankanku.
Oke, anggap saja duniamu benar-benar penting bagimu.
Tapi apa iya .. duniamu tak bisa kamu bagikan dengan orang yang "katanya" kamu cintai, dan orang itu adalah aku.
Kadang aku pun tertawa dengan ini. Kata cintamu terdengar hanya omong kosong karena tak ada alasan yang menguatkannya. Apa yang kamu tunjukkan tak sejalan dengan kata cintamu. Jadi aku berpikir kamu benar-benar tak mencintaiku. Eh, jangan salahkan aku menerka hatimu seperti ini. Tanyakan saja pada dirimu apakah aku ini berarti bagimu? Kalo iya, haruskah kamu terus mengabaikanku terlebih saat aku membutuhkanmu?
Oke, anggap saja masalah-masalah telah kita selesaikan tanpa ada pertemuan yang menguatkan terselesaikannya masalah itu. Tapi toh pada kenyataannya kita akan selalu dihadapkan pada masalah yang sama. Karena sikap ego kita yang tak ingin saling mendengarkan, mungkin kita perlu berbicara dari hati ke hati dan saling jatuh cinta pada orang yang sama lagi yakni kita. Tapi itu selalu tak kita lakukan.
Saat aku sakit, saat aku benar-benar merindukan sosokmu saat kita dekat dalam ribuan kilometer ini, saat aku sangat membutuhkanmu, kamu menganggapku layaknya seorang anak kecil yang sedang merengek dibelikan mainan padamu.
Mungkin aku nampak seperti itu. Tapi bukankah sudah kewajiban kita untuk saling mencintai, memberi dan menerima, untuk saling membahagiakan?
Tak bisakah kamu membagi sedikit waktumu saja untuk mendengarkanku bukan mengabaikan dan menomor sekiankan diriku? Dari sikapmu, kamu seolah sedang menjawab pertanyaanku dengan kata "iya, aku tak bisa"
Oke .. jadi karena itu, aku sudah mulai sadar untuk tak bersahabat lagi dengan rindu, untuk tak mencintai apa yang kuberi nama tangisan yang sering kutangisi saat malam.
Kini aku mulai bersahabat dengan rasa sakit dan kecewa karena telah diabaikan dan dinomor sekiankan olehmu.
Sekarang terserah saja padamu ..
Aku sudah tak ingin untuk mengetahui apapun dengan mencoba menerka pikiran dan hatimu yang nantinya pasti hanya akan menyakiti diriku sendiri. Terserahlah ..
Sekalipun kamu sudah melepaskanku sekarang, terserahlah ..
Sekalipun kamu sudah memiliki dia yang lebih baik dariku, terserahlahh ..
Sekalipun aku harus tanpamu, terserahlah .. aku sudah terbiasa menerima perlakuanmu selama dan sejauh ini.
Hanya saja terima kasih ..
Jangan salahkan aku bila suatu saat aku pun harus melepaskanmu, karena aku sudah terbiasa dilepaskan olehmu, diabaikan olehmu, dinomor sekiankan olehmu, disakiti olehmu, diselingkuhi olehmu, dan banyak perlakuan kejam dan apa yang kau anggap "ah biasa saja" mu itu terhadap apa yang kuberi nama kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar