Malam ini aku menangis
Bukan karena kamu
Tapi karena kebodohanku sendiri
Kebodohan yang telah kugunakan sekian lama untuk hanya mencintai seseorang seperti kamu.
Malam ini aku menangis
Bukan karena aku merindukanmu
Tapi aku merindukan kenangan sekian lama denganmu
Kenangan yang membuat oksigen yang kuhirup seperti carbondioksida yang ingin kukeluarkan tapi sesak dan tak mampu keluar.
Mungkin bukan karena tak mampu keluar, hanya saja aku yang memilih mengisi paru-paruku dengannya hingga rasa sakit di dada ini membuatku merasa hampir mati.
Malam ini aku menulis, menuangkan sebagian isi hatiku disini
Bukan karena aku ingin mengemis belaskasihan kamu atau siapapun yang membacanya!
Dengan tegas kujelaskan, aku benci dikasihani!
Tulisan ini hanya untuk menuangkan "Real feeling" yang kurasa.
Dengan seperti ini kurasa rasa sakit yang semakin terasa berat karena sudah bertumpuk, agak sedikit ringan.
"Tuhan .. sebodohkah diriku hingga hanya mampu melihat seorang lelaki?
Sebodoh itukah aku hanya mencintai satu lelaki?
Sebodoh itukah diriku membuat hatiku mati dan tak ada lelaki lain yang mampu membukanya kembali?
Tuhan aku lelah.
Sebodoh itukah diriku membuat hatiku mati dan tak ada lelaki lain yang mampu membukanya kembali?
Tuhan aku lelah.
Aku lelah menunggu, aku lelah mencintai, aku lelah menangis, aku lelah dan benar-benar sudah dipuncak kelelahan.
Sulit sekali Tuhan kalau aku terus berpura-pura "Aku kuat" padahal sebenarnya tidak!
Aku lelah berpura-pura tertawa dan tersenyum dan bahkan tidak marah sementara hatiku bahkan sudah tak berbentuk, hatiku menangis dan hatiku seolah mati."
Aku lelah berpura-pura tertawa dan tersenyum dan bahkan tidak marah sementara hatiku bahkan sudah tak berbentuk, hatiku menangis dan hatiku seolah mati."
Aku mengulang ucapanku itu berkali-kali.
Hei kamu ..
Bahkan untuk merindukanmu saja aku tak bisa mengatakannya kepadamu?
Bisa kamu tahu sakitnya?
Bahkan untuk menangis saja didepanmu dan mengeluarkan tiap hal menyakitkan yang kusimpan saja aku belum mampu.
Bisa kamu tahu sakitnya?
Bahkan untuk mengatakan aku mencintaimu dan berharap kamu menyesali semua rasa sakit yang kamu berikan untukku, aku belum siap. Lebih tepatnya aku terlalu takut. Takut untuk terluka untuk kesekian kali dari lelaki yang sama yaitu kamu.
Bisa kamu tahu sakitnya?
Kamu memang tak pernah tahu
Kamu bahkan tak peduli, mungkin
Bisa kamu tahu sakitnya?
Kamu memang tak pernah tahu
Kamu bahkan tak peduli, mungkin
Kamu memang tak bisa merasakan yang sama
Kamu bahkan tak bisa baca sorot mataku.
Bagaimana mungkin kamu mengerti kalau ini terlalu sakit bagiku?
Kamu tak tahu betapa aku mencintaimu lebih baik dari wanita manapun
Kamu tak tahu betapa aku mencintaimu lebih baik dari wanita manapun
Kamu tak tahu aku tulus
Mungkin aku kelihatan tak peduli padamu, emosiku labil dan tak bisa kutahan semuanya, aku bahkan bertindak seolah aku memang sudah tak mencintaimu. Tapi itu tidak benar!
Aku menghirup kembali dengan utuh carbondioksida yang membuatku sakit sendiri, membuatku menangis sendiri, membuatku seperti wanita gila menahan tangis dan teriak yang bahkan tak mampu kudengar bising teriakanku sendiri.
Aku menghirup kembali dengan utuh carbondioksida yang membuatku sakit sendiri, membuatku menangis sendiri, membuatku seperti wanita gila menahan tangis dan teriak yang bahkan tak mampu kudengar bising teriakanku sendiri.
Kamu memang tak peduli aku luka. Kamu tak mau tahu itu.
Kamu tak tahu rasa sakit itu semakin lama semakin membuatku mati.
Aku mati rasa terhadap diriku sendiri hingga melukai diriku sendiri.
Aku mati rasa terhadap lelaki lain disekitarku.
Aku bodoh!
Aku menangis tapi tak pernah mau orang melihatnya.
Aku menangis tapi tak pernah mau orang melihatnya.
Hatiku sakit tapi tak pernah ingi mereka tahu.
Apalagi kamu ..
Andai saja aku tak pernah sebodoh ini mencintaimu, mungkin aku bisa melepaskan diriku sendiri dari udara yang merusak paru-paruku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar