"Untuk setiap pertemuan pasti akan ada sebuah perpisahan." kata pepatah
Cepat atau lambat kamu juga akan mengalaminya.
Entah kapan saat itu tiba ..
Aku sudah mengalaminya. Aku sudah bertemu banyak orang, aku juga sudah cukup banyak mengalami perpisahan dengan orang-orang tersebut.
Entah perpisahan dengan senyuman sekedar say Hallow, atau bahkan perpisahan dengan airmata. Tapi lebih banyak yang kualami adalah perpisahan dengan airmata.
Wajar kan, aku juga manusia biasa, aku punya hati yang bisa merasakan sakit ketika harus berpisah dengan orang-orang yang kusayangi.
Jika kamu bertanya kepadaku, "Apakah aku sudah pernah merasa benar-benar kehilangan saat harus berpisah dengan seseorang yang sangat kucintai?" Aku akan menjawab, "Iya, pernah." Aku takan memungkiri hal ini.
Aku telah bertemu seseorang.
Dia adalah seorang pria yang kucintai.
Dia yang kupanggil lelaki-ku.
Dia yang kepadanya kupastikan kesetiaanku, hanya untuknya seorang.
Dia yang membuatku memilih menjatuhkan hatiku kepadanya.
Dia yang membuatku menjatuhkan diriku dalam pelukan hangatnya, ia muara rinduku.
Dia yang membuatku tersenyum, sedih, tertawa, menangis, marah, kesal, cemburu.
Untuk pertama kalinya, aku memilih menyerahkan seluruh dariku untuknya.
Kepada pria itu, aku berjanji bahkan jika waktu terus berlalu, sekalipun kami berjauhan, sekalipun kami saling marah, takan pernah bisa merubah perasaanku terhadapnya.
Lalu .. Perlahan-lahan seiring berjalannya waktu, kutemui kekecewaan.
Harapan dan mimpi yang kubangun tiba-tiba sirna.
Cukup banyak hal yang indah kubayangkan saat nanti dia menjadi pendamping hidupku.
Namun hal indah itu berakhir pilu.
Kutemui luka dihati. Kami bertengkar hebat, beradu mulut, saling mencaci, saling menghina, saling menyakiti. Semua berbeda dari yang dulu saat kami bertemu.
Hubungan kami berakhir pilu.
Aku menangis keras saat menyadari hubungan kami sudah tak bisa kami pertahankan, seperti janji kami dulu.
Aku sudah sempat berjuang untuk mempertahankannya.
Aku sudah cukup mengusahakan banyak hal untuk tetap bisa bersamanya.
Tapi ternyata usahaku tak pernah punya nilai dimatanya.
Apa yang kuperjuangkan itulah yang ia tengah abaikan.
Sudah cukup banyak yang kukorbankan saat bersamanya dan agar bisa menjadi wanita terbaik baginya, tapi usaha yang kutempuh adalah kesia-siaan saja.
Aku menangis dan sempat marah kepada Tuhan, mengapa Tuhan setegah ini kepadaku? Mengapa Tuhan membuat aku harus berpisah dengan pria yang kucintai? Mengapa Tuhan mempertemukan aku dengannya kemudian Tuhan membiarkan kami berpisah begitu saja?
Hati mengalahkan logikaku sebagai wanita.
Aku sempat merengek hanya untuk mempertahankannya.
Tapi bahkan tangisanku tak lagi membuat dia kembali kepadaku.
Kemudian Tuhan mencoba mengetok pintu hatiku pelan-pelan, membuka mataku. Lalu baru kusadari jika perasaan yang tulus itu hanya aku yang memilikinya.
Setelah sekian lama berjuang dalam lika-liku hubungan ini, pernah mengalami putus-nyambung bahkan beberapa kali, pernah menangis bersama saat banyak kerikil yang terinjak dalam perjalanan kami, semuanya hanya adalah sia-sia dan sebuah kebohongan darinya (mungkin).
Selama ini hanya aku yang berjuang bukan aku dan dia, bukan "Kita."
Rasa sakit yang kutemui ialah rasa sesak didada. Serasa seperti udara yang kuhirup adalah udara kotor.
Dia yang kuharapkan adalah masa depanku, dia yang kuinginkan tuk jadi lelaki-ku, tuk jadi pendamping hidupku dan menemaniku hingga ajalku, ternyata aku salah. Malah dia ingin lepas dariku, dia ingin pergi meninggalkanku sekalipun sudah kuusahakan agar dia menetap saja bersamaku. Tetap saja dia ingin pergi jauh dari hidupku dan meninggalkanku sendiri dengan rasa sakit akan cinta dan rindu yang sama besar kepadanya.
Well .. itu ceritaku. Cerita singkat tentang pertemuan dan perpisahan dengan pria kucintai.
***
Didalam hidup yang kita jalani, akan ada banyak orang yang datang lalu kemudian pergi.
Ada yang datang hanya sekilas dihidup kita namun meninggalkan luka.
Ada yang datang membawa bahagia sesaat lalu pergi menyisahkan kesedihan.
Ada yang datang, sudah bersama kita tapi tak pernah kita sadari arti hadirnya lalu tiba-tiba saja ia menghilang seperti tak pernah ada.
Ada banyak hal yang membuat seseorang datang .. Ada banyak alasan mengapa seseorang harus pergi.
Jika kamu bahagia saat dipertemukan dengan seseorang, wajar.
Jika kamu sedih saat harus dipisahkan dengan seseorang itu pula, wajar.
Sebuah kewajaran jika kamu mengalami perasaan bahagia saat bertemu, dan merasa sedih saat berpisah. Semua orang pasti mengalaminya.
Jika bertemu memiliki sebuah alasan, maka perpisahan juga demikian.
Kecewa? Boleh saja. Tapi jangan karena kamu kecewa hingga membuatmu putus asa dan menghancurkan hidupmu sendiri apalagi sampai menghancurkan masa depan yang sedang menantimu diujung jalan sana.
Hei sayang .. ini hanya persimpangan dari jalan yang kau pilih.
Tenanglah, sabarlah, kuatlah, dan yakinlah .. diujung jalan sana ada kebahagiaan besar yang menunggu seseorang sepertimu.
Bumi yang kita pijaki ini bulat, dan terus berputar.
Untuk setiap hal yang terjadi, akan ada waktunya. Mungkin ini belum waktunya untukmu.
Waktu yang pernah ada dulu, yang pernah menjadi sebuah kesia-siaan, lupakanlah!
Waktu yang dulu, biarkanlah ia menetap ditempatnya saja dan tak usah mengikutimu.
Biarkanlah semua berlalu, hilang .. seperti perpisahan.
Tak perlu ditunggu, tak perlu dicari, tak perlu mundur kebelakang, tak perlu melihat kebelakang!
Move on! Move up! Move away!
Biarkanlah masa lalu berlalu seiring berjalan waktu. Biarkanlah luka-luka yang pernah ada, sembuh seiring tawa yang selalu datang menghampirimu. Berbahagialah!
Aku sempat searching di google tentang pepatah pertemuan dan perpisahan
Aku menyukai beberapa kalimat yang ditulis oleh pemilik blog 'Dare to dream'
Ini kutipan kalimatnya "Terkadang perpisahan adalah cara Tuhan untuk menyelamatkanmu dari orang yang tidak tepat." Aku kagum membaca kalimat ini, karena makna kalimatnya begitu dalam bagiku.
Mungkin benar jika perpisahan adalah cara Tuhan untuk memisahkan kita dengan orang yang tidak tepat. Tidak tepat .. Hm, mungkin maksudnya adalah orang yang tidak baik bagi kita. Jika memang begitu, bukankah lebih baik jika berpisah? Percuma juga jika kita memaksakan diri untuk bersama dengan seseorang yang sebenarnya sudah tidak ingin bersama kita, sudah meninggalkan kita. Resiko dalam hidup kita jika kita memaksakan kehendak untuk tetap bertahan adalah waktu. Waktu yang berharga hanya terbuang sia-sia. Waktu yang sebenarnya bisa kita gunakan untuk lebih memfokuskan diri kita meraih kesuksesan hanya sia-sia.
Jika Tuhan membiarkanmu menerima rasa sakit yang sesak hingga membuatmu menangis bahkan berteriak seperti mau gila rasanya, yakinlah ada alasannya mengapa demikian. Semua adalah rencana Tuhan untuk hidup yang lebih baik bagimu karena Tuhan begitu sayang kepadamu. Tuhan ingin semua yang baik bagi hidupmu, termasuk cinta yang baik pula untukmu.
Jika seseorang adalah orang yang tepat bagimu, baik bagimu, tentu saja dia takan meninggalkanmu.
Namun jika dia meninggalkanmu berarti dia bukan orang yang tepat dan baik bagimu. Biarkan saja dia pergi!
Jika dia nanti kembali, pastikan jika dia telah berubah menjadi seseorang yang lebih baik dan tepat bagimu. Dia yang bertanggung jawab atasmu, dia yang mau berkomitmen bersamamu, dia yang takan mengkhianatimu, dia yang takan pernah lagi meninggalkanmu dan dia yang mencintaimu dalam kekuranganmu dan menjadikanmu wanita yang lebih baik dari hari-hari kemarin.
Jika dia tidak kembali, ikhlaskanlah dia bersama seseorang yang dia pilih. Maafkanlah semua kesalahannya lalu lupakanlah masa lalu kalian.
Mungkin maksud Tuhan untuk mempertemukan kalian berdua adalah untuk mengajarimu tentang sesuatu agar kamu menjadi seseorang yang lebih baik nanti saat bersama dengan seseorang yang lebih baik bagimu.
Seperti kata pepatah, "Pertemuan adalah perpisahan yang tertunda. Jika berpisah, biarlah pelajaran disetiap pertemuan akan mendewasakanmu."
So, akhir dari sebuah perpisahan bukanlah akhir dari segala-galanya. Tetapi sebuah awal untuk lebih baik dari sebelumnya. Mungkin juga perpisahan adalah awal untuk mendapatkan seseorang yang lebih baik bagi kita.
***
dear kamu,
Terima kasih pernah datang dihidupku
Terima kasih pernah menetap dihidupku
Terima kasih untuk waktu yang lama, bersamaku
Terima kasih untuk luka
Terima kasih sudah datang lalu pergi
Meski cintamu kepadaku tidak sama besarnya seperti cintaku kepadamu, tidak apa-apa.
Setidaknya aku pernah mencintaimu dengan setulus hatiku.
Setidaknya aku pernah berjuang untuk mempertahankanmu.
Meski itu sia-sia.
Aku tidak menyesal telah menjatuhkan hatiku kepadamu.
Justru aku bahagia bahwa kamu pernah ada dihidupku, setidaknya pertemuan kita mengajariku sesuatu yang lebih berharga sehingga aku menjadi wanita yang lebih baik.
Kesalahanmu sudah sejak lama aku maafkan meski mulutku berkata aku tak pernah memaafkannya.
Kesalahanmu sudah sejak lama kulupakan meski hatiku tetap saja menyimpan lukanya.
Sekarang .. Pergilah!
Pergi sesuka hatimu .. Pergi sesuka maumu .. Pergi sesuai keinginanmu ..
Kau sudah kuikhlaskan, kau sudah kumaafkan ..
Mungkin memang kamu lebih baik bersama wanita yang kau pilih, wanita yang kau cintai itu daripada bersamaku yang tak pernah memberimu semua yang kau mau seperti katamu.
for you
*terima kasih untuk menjadi inspirasi tulisan saya*