Aku berharap hujan turun deras,
agar aku bisa menangis .. tanpa ada satupun yang mendengar tangisanku.
Aku berharap angin yang berhembus,
bisa menyampaikan kepadamu .. betapa aku merindukanmu.
Satu hal yang tidak pernah kamu tahu,
setiap kali kumengingatmu dan jalan cerita kita membawaku terhanyut didalam satu lamunan yang tinggi dan aku tidak ingin lamunanku berhenti tanpa arti, setiap kali seperti itu aku harus menangis.
Aku ingin sekali menyapamu .. namun aku terlalu takut bila aku kembali mengharapkanmu.
Aku takut bilamana aku sudah berharap kepadamu dan rasa itu terlalu tinggi sehingga saat kamu kembali mengabaikanku, aku harus merasa telah terjatuh dan kau tahu, ketika seseorang terjatuh itu sakit.
Aku ingin sekali menanyakan kabarmu, sedang apa kamu, bersama siapa kamu, dimana kamu, dan sederetan pertanyaan yang sudah lama .. ya, lama sekali tak pernah kutanyakan kepadamu. Tapi aku terlalu malu menanyakannya, bahkan untuk mempunyai keberanian untuk menelponmu dan menyebut namamu didalam pesan singkat pun aku tak punya itu.
Mungkin ini juga termasuk ego, ya keegoisanku sendiri tidak punya satu kemampuan untuk mempertahankanmu padahal aku cinta. Mungkin pula karena ego sebagai perempuan yang membuat aku berpikir bahwa seharusnya seorang laki-laki yang datang menyapaku, atau mempertahankanku .. ya kira-kira seperti itu. Semuanya ini tentang ego yang mungkin saja menjadi tembok antara aku dan kamu.
Bagaimana caranya untuk agar kau mengerti bahwa aku rindu?
Bagaimana caranya untuk agar kau mengerti bahwa aku cinta?
Masihkah mungkin hatimu berkenaan menerima hatiku untukmu?
Cintaku sedalam samudera, setinggi langit diangkasa kepadamu.
Cintaku sebesar dunia, seluas jagat raya ini kepadamu.
Hei lagu ini tepat untukmu "Cinta mati voc. Agnes Monica ft Dhani Ahmad"
Aku ingin sekali mengatakan "Sayang, aku rindu kamu. Sayang, aku butuh kamu. Sayang, aku cinta kamu." Huh .. bagaimana harusnya aku menyampaikan kata-kata itu? sementara kamu mungkin tidak peduli lagi. Dari terakhir kali kalimat yang kuingat keluar dari bibirmu, yang kau ungkapkan lewat suara yang terbentuk indah ditelingaku namun menyakitkan saat mendengarnya adalah kamu sudah lelah, kamu sudah bosan denganku, kamu sudah berada disatu titik kejenuhan berada disekitarku, bersamaku menjalin hubungan yang aku terlalu memaksakannya. Dari yang kumengerti saat itu, iya kamu sudah jenuh karena satu keterpaksaan emosional darimu. Mungkin saja kamu sudah tak cinta, mungkin saja kamu sudah lupa, mugkin saja kamu tidak peduli lagi tentang aku, tentang kita, dan jalan cerita kita namun aku yang terlalu memaksamu untuk tinggal bersamaku.
Ingin mengatakan rindu, butuh dan cinta tapi aku hanya terlalu takut untuk mencintaimu, mencintai laki-laki yang mungkin saja sudah meninggalkanku sejak lama tanpa kusadari dengan baik. Aku takut terluka karena terlalu berharap, karena terlalu menginginkanmu dan mencarimu setiap kali kurindu lalu mencintaimu terlalu dalam mungkin lebih dalam dari sebelumnya.
Memang aku merindukanmu!
Tidak dapat kupungkiri hal itu .. Sakitnya aku jika membohongi hatiku sendiri. Jadi aku takan mengingkari bahwa ya memang aku merindukanmu, benar adanya begitu.
Namun daripada harus mendengar hal yang tidak mampu kudengar yang jauh dari harapanku, lebih baik aku begini, merindukanmu dalam keheninganku, merindukanmu tanpa kamu tahu, dan sendiri menahan sakit yang sebenarnya sudah tidak mampu kutahan sendiri saat kamu meninggalkanku. Biarlah semua begini adanya .. karena kutahu itu yang terbaik bagimu daripada harus bersamaku yang membuat semua yang kamu lakukan adalah paksaan.
dengan rindu,
@ichaKeljombar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar