Kupikir masih demikian tepatnya sosokku didalam kehidupanmu.
Kupikir kamu seseorang yang kupertahankan, yang sampai detik ini masih kuharapkan jadi lelaki masa depanku ialah sama denganmu mempertahankanku.
Kupikir harapanku tentang kita adalah satu harapan yang kan indah hingga akhir cerita.
Kupikir jalinan kasih yang terjalin bertahun-tahun denganmu kokoh seperti harapanku.
Kupikir kita semakin ada dalam suatu hubungan yang lama, tentu akan lebih saling mengenal satu sama lain, tentu akan saling mengerti ataupun memahami, tentu akan lebih saling mencintai lebih dari yang sebelumnya, yang pernah kita lalui bersama.
Kupikir .. hanya orang-orang yang tak lalui labirin dan lorong masalah seperti kita sajalah yang mungkin kan menemukan satu titik kejenuhan karena tak tahu betapa sulitnya menemukan seseorang yang benar-benar kita cintai.
Kupikir aku masih berarti, kupikir aku masih menjadi prioritas dan tujuan hidupmu, kupikir akulah masa depanmu.
Ternyata aku salah! Aku bukan siapa-siapa dan takan pernah jadi seseorang yang ingin kamu miliki hingga hembusan nafas terakhirmu nanti.
Aku pikir kita baik-baik saja, setelah melalui beberapa hal sulit dan sama sekali tidak menyenangkan.
Ternyata aku salah .. semuanya hanya terpaku pada pikiranku semata, bukan apa yang dipikirkan otakmu dan diinginkan hatimu.
Aku tersenyum miris menatap bayangan diriku yang terpantul dikaca.
Begitu bodohnyakah aku hingga aku harus menyerahkan segala yang kupunya lalu akhirnya menuai kekecewaan?
Kamu lelaki yang kucintai seiring kepergianmu, kamu bawa hatiku yang telah kamu curi dan kamu ukir kejahatan sejati yang melekat erat pada jiwaku.
Kamu pergi dan meninggalkan pedih menyisakan perih dihatiku. Kamu datang lalu pergi seenak hati membuat dua sisi dihatiku terbelah.
Aku bertahan meski kutahu kamu tak lagi kamu yang dulu kukenal, yang dulu sangat menyayangiku dan bertahan denganku dalam kondisi apapun. Namun kamu tahu .. ini menyakitkan saat aku sadar aku bertahan dalam simpul keikhlasan yang bahkan logikapun seolah tak mengenalku.
Aku bertahan sendiri disini sedang bayang tentangmu terus menyiksaku.
Mereka bilang, aku menyiksa diriku sendiri, aku menyakiti hatiku sendiri, sedangkan diriku sama sekali tak sadar aku tengah terus menyakiti diriku dan hatiku karena yang kutahu ialah hanya ingin denganmu.
Bagaimana mungkin aku bisa menyingkirkanmu dari otakku?
Bagaimana mungkin aku bisa menghapusmu dari hatiku?
Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan kenangan kita, yang jejaknya hampir samar-samar olehku namun tetap kuikuti?
Sementara dihatiku tak mampu mempunyai ruang lebih untuk mengikhlaskan kepergianmu.
Tak ada kata habisnya tuk membuat aku tidak untuk berpikir keras tentangmu.
Salahkah aku melebih-lebihkan tentang kamu yang kuanggap milikku seutuhnya?
Kamu .. tak bisakah kamu mendengarkan hatiku?
Kamu .. tak bisakah kamu mengerti aku terluka?
Kamu .. tak bisahkah kamu pahami dan menyadari apa yang telah aku berikan kepadamu bahkan mungkin melebihi kemampuan seorang bidadari yang memberikannya kepadamu.
Kamu tak pernah sedikitpun mengerti aku luka. Mungkin memang aku harus merelakan meski itu pahit bagiku sekaligus menutup semua harapanku untuk hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar