Aku .. Kamu .. Kita ..
Kita bukan lagi dua orang yang saling mencintai seperti kita yang dulu, seperti kita yang bodoh karena saling mencintai, seperti kita yang menangis karena saling merindukan dan saat kita menghadapi labirin-labirin yang kusebut sebagai masalah.
Kita bukan lagi dua orang yang saling mendoakan saat kita tahu waktu dan jarak semakin menguji kemampuan cinta kita untuk bertahan. Kita bukan lagi dua orang yang menghargai betapa berharganya waktu bersama, saling mengisi, saling memberi, saling menerima, saling memeluk dan pada akhirnya semakin lama, semakin saling mencintai. Kita bukan lagi dua orang yang saling tertawa bersama saat salah satu dari kita melakukan kebodohan atau kelucuan yang membuat kita semakin tertarik untuk tetap bersama.
Kita bukan lagi kita yang dulu!
Kita seperti saling melukai ..
Kita seperti lupa dengan diri kita, yang mana saat kita membangun cinta ini. Kita seperti lupa dengan kenangan, janji dan komitmen kita. Kita seperti lupa akan cinta kita, cinta yang membuat kita selama ini bertahan melalui labirin masalah yang menguji kita. Terlebih lagi, kita mulai lupa tentang waktu dan jarak yang membuat kita ada disuatu roda dimana saat kita diatas, kita menikmati tiap detik kebahagian bersama, lalu kemudian kita terjatuh dan menangis bersama tapi ternyata kita masih mampu untuk bertahan.
Kita sudah lupa bagaimana kita dulu pernah saling membahagiakan.
Kita sudah lupa bagaimana kita dulu pernah membuat banyak orang iri dan cemburu melihat cinta dan kebersamaan kita yang tak mampu dikalahkan waktu dan jarak.
Sangat buruk bagi kita saat semua tak lagi sama!
Tentu saja kita terluka, saat kita mengharapkan seseorang yang tengah kita pertahankan namun semua sirna saat waktu dan jarak membuat kita sama-sama bertemu pada satu titik, jenuh.
Tentu saja kita terluka, saat harapan kita pada hubungan kita yang kita yakini kokoh ternyata tidak sekokoh apa yang kita harapkan, tidak sekokoh apa yang kita banggakan. Semuanya berada pada titik terbawah saat waktu dan jarak menguji kita dengan masalah dan kita sama-sama menghadapinya dengan keras kepalanya kita tepatnya keegoisan kita yang menjadi tembok penghalang antara kita.
Tentu saja kita terluka, saat benih-benih cinta yang telah kita tanam bertahun-tahun dan saat kita berpikir kalau kita sudah saling saling mengerti, semua berbalik menjadi kita sulit mendahulukan siapa yang terlebih dulu dipahami.
Tentu saja kita terluka, saat masalah yang tengah kita hadapi tak bisa diselesaikan dan seolah malah menyingkirkan semua kenangan saat kita tersenyum bersama, tertawa bersama, menangis bersama, dan tentang segala waktu yang kita lakukan bersama, dengan sebuah harapan yang mana kita sama-sama ingin saling melupakan.
Tentu saja kita terluka, saat janji kita untuk saling menunggu ternyata kalah saat masalah menggores hati yang dulunya telah kita sepakati untuk bersabar.
Tentu saja kita terluka, saat kepercayaan dan kesetiaan kita yang kita genggam ternyata sirna saat jarak membuat orang lain masuk dalam hubungan kita.
Oh .. tolong jangan bertanya siapa yang memulai semua ini. Aku? Kamu? Tidak! Jangan pernah bertanya tentang keakuan atau kekamuan. Semua jawaban bermuara hanya pada kita.
Tentu saja kita terluka!
Bertahun-tahun kita bersama,
Bertahun-tahun kita membangun rumah yang kusebut cinta,
Bertahun-tahun kita saling memperjuangkan satu sama lain,
Bertahun-tahun kita melukiskan setiap impian kita bersama,
dan bertahun-tahun kita menyimpan rindu yang hanya bisa kita kecap saat kita punya waktu dan kesempatan untuk bertemu saling memadu kasih yang menyerap tiap rindu yang bertumpuk.
_________________________________________
Hei kamu .. seseorang yang kuberi nama lelakiku ..
Kamu tahu, bagian yang paling tersulit bagiku adalah MELUPAKANMU DAN AKU RASA HATIKU BERKATA AKU TAK BISA, meski logika berkata kamu sudah dimiliki dia yang mungkin saja memang lebih baik dariku dan kamu pantas bersamanya daripada bersama diriku.
Kamu tahu? Mungkin bagimu bagian melupakanku tidaklah sulit dan tidaklah sakit karena dia. Tapi aku .. tentu saja aku terluka, tentu saja aku menangis meski kadang aku harus menyelipkan senyum dan tawaku agar tangisanku tak menjadi lelucon bagimu.
Pada akhirnya kamu ingin melupakanku bahkan mungkin kamu sudah berhasil melupakanku.
Tapi aku belum .. bahkan aku belum memulainya sama sekali, dan aku tak tahu kapan aku akan memulainya, karena bagiku menyimpan setiap detik indah bersamamu yang terjadi pada kita yang dulu adalah suatu kenangan terindah dan the best moment in my life, jadi kita .. ah maksudku kamu, kamu bisa melupakanku, tapi aku tak ingin melupakanmu karena cintaku tak pernah kamu tahu. Cintaku takan bisa tersaingi dengan cinta orang lain kepadamu, karena cintaku bernilai tak terhingga.
sweet-love,
Eva Maria
Tidak ada komentar:
Posting Komentar