Aku pernah terbiasa tak menangkap bayanganmu di pupil mataku.
Pernah terbiasa ..
Kemudian kita bertemu .. dan aku mulai terbiasa menikmati sentuhan kasih sayangmu dan perhatian yang terasa berlebih saat kita dekat. Ah, akhirnya aku terbiasa mengecap hadirmu disetiap hariku.
Dan kini kembali seperti biasanya,
Aku merindukanmu lagi ..
Pernah terbiasa ..
Kemudian kita bertemu .. dan aku mulai terbiasa menikmati sentuhan kasih sayangmu dan perhatian yang terasa berlebih saat kita dekat. Ah, akhirnya aku terbiasa mengecap hadirmu disetiap hariku.
Dan kini kembali seperti biasanya,
Aku merindukanmu lagi ..
Aku merindukan sosokmu yang selalu menemani dan menjagaku setiap saat. Ah, aku merindukan masa-masa itu.
Merindukan masa dimana kita saling bertemu,
Merindukan masa dimana kita bisa saling meraba kehangatan.
Aku merindukan perbincangan kita, candaan kita, tawa kita, bahkan aku merindukan saat-saat kita sempat bertengkar beberapa kali dan kamu memelukku, meminta maafku, lalu menangis bersama dan berakhir dengan tawa kita bersama.
Aku merindukan menatapmu yang sedang sibuknya memasak makanan untukku, sedang menyuapiku makan, bahkan terkadang aku tersenyum sendiri menatapmu yang sedang makan sambil keringetan.
Aku merindukan genggaman tanganmu, pelukanmu bahkan kecupanmu.
Ah, kantung mataku terasa sudah penuh menampung butiran bening yang bila kuderetkan satu per satu kenangan indah kita akan meluap begitu saja.
Ternyata tak pernah cukup waktu kuhabiskan denganmu. Aku masih ingin terus menghabiskan waktu bersama kau yang kupanggil lelakiku.
Rindu .. Rindu .. Rindu
Aku ingin terus mengatakan kata itu, agar aku tak merindukanmu sampai seperti ini lagi.
Tapi ternyata sia-sia saja. Tiap waktuku selalu kumerindukan sosokmu.
Adakah caranya untukku bisa meredam rindu ini?
Mungkin saja rindu itu bisa ku redam sedikit agar aku tidak semakin kalut dengan kerinduan yang kapan saja bisa tuk mengaduk isi hatimu.
Ah, kerinduanku semakin menggebu, kerinduan yang terbatas oleh jarak dan waktu.
Bahkan pesan singkat dan telepon pun takan cukup tuk meredam kerinduanku.
Ingin rasanya aku memilih untuk memaki jarak dan waktu yang memisahkan kita lagi.
Ataukah harus kumaki saja diriku yang telah begitu merindukanmu, atau bahkan memakimu yang selalu mondar-mandir dipikiranku dan selalu berhasil merobohkan pertahanan akal sehatku lalu akhirnya merindukanmu lagi.
Merindukan masa dimana kita saling bertemu,
Merindukan masa dimana kita bisa saling meraba kehangatan.
Aku merindukan perbincangan kita, candaan kita, tawa kita, bahkan aku merindukan saat-saat kita sempat bertengkar beberapa kali dan kamu memelukku, meminta maafku, lalu menangis bersama dan berakhir dengan tawa kita bersama.
Aku merindukan menatapmu yang sedang sibuknya memasak makanan untukku, sedang menyuapiku makan, bahkan terkadang aku tersenyum sendiri menatapmu yang sedang makan sambil keringetan.
Aku merindukan genggaman tanganmu, pelukanmu bahkan kecupanmu.
Ah, kantung mataku terasa sudah penuh menampung butiran bening yang bila kuderetkan satu per satu kenangan indah kita akan meluap begitu saja.
Ternyata tak pernah cukup waktu kuhabiskan denganmu. Aku masih ingin terus menghabiskan waktu bersama kau yang kupanggil lelakiku.
Rindu .. Rindu .. Rindu
Aku ingin terus mengatakan kata itu, agar aku tak merindukanmu sampai seperti ini lagi.
Tapi ternyata sia-sia saja. Tiap waktuku selalu kumerindukan sosokmu.
Adakah caranya untukku bisa meredam rindu ini?
Mungkin saja rindu itu bisa ku redam sedikit agar aku tidak semakin kalut dengan kerinduan yang kapan saja bisa tuk mengaduk isi hatimu.
Ah, kerinduanku semakin menggebu, kerinduan yang terbatas oleh jarak dan waktu.
Bahkan pesan singkat dan telepon pun takan cukup tuk meredam kerinduanku.
Ingin rasanya aku memilih untuk memaki jarak dan waktu yang memisahkan kita lagi.
Ataukah harus kumaki saja diriku yang telah begitu merindukanmu, atau bahkan memakimu yang selalu mondar-mandir dipikiranku dan selalu berhasil merobohkan pertahanan akal sehatku lalu akhirnya merindukanmu lagi.
Tapi ..
Mungkin dengan doa, aku bisa memeluk dirimu dari jauh agar rasa rindu ini tidak semakin menyakiti diriku sendiri atau membunuhku dengan rasa kecewa.
Karena aku yakin kamu disana pun tentunya berdoa saat kamu merindukanku karena itu adalah caranya kita saling memeluk meski terpisahkan oleh ribuan jarak dan waktu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar