A: Lagi pacaran sama siapa?
B: Gak ada
B: Gak ada
A: Ah (desahnya) Gak mungkin-lah.
B: Kenapa gak mungkin?
A: Gak mungkin cewek cantik seperti kamu gak punya pacar
B: (aku tertawa) Mungkin saja kan? Nothing is impossible, right?
A: Memang tapi aku gak percaya saja kamu gak punya pacar.
A: Memang tapi aku gak percaya saja kamu gak punya pacar.
B: Kenyataannya begitu.
A: Pasti banyak yang suka tapi kamu nolak. Right?
B: Bisa iya, bisa tidak
B: Bisa iya, bisa tidak
A: (bingung) Apa karena kamu masih cinta sama dia, makanya nolak mereka yang datang?
B: Ngomong soal cinta, it's my privacy.
A: Hati-hati jangan banyak nolak orang, nanti dibilang gak laku sama haters.
B: Biarin saja! Mulut mereka adalah kepunyaan mereka. Hak mereka. Selama mereka gak ngasih napas, sandang, pangan, dan papan untukku, omongan mereka tak penting bagiku.
Kenapa aku gak punya pacar?
Apakah karena aku kurang cantik dibandingkan dengan wanita-wanita lain yang punya.
"Gak laku, kali!" Kalimat ini pernah terlintas dipikiranku dan biasanya muncul saat-saat aku mulai bosan dan lelah dengan kesendirianku. Tapi suara hati menegaskan kepadaku bahwa setiap makhluk yang berjenis kelamin wanita diciptakan Tuhan dengan kecantikkan alami dan keunikkan masing-masing orang, dan tiap hal indah yang diciptakan Tuhan yang ada pada wanita.
Kenapa aku gak punya pacar?
Ini bukan masalah gak laku! Memangnya hati dan diri kita itu bisa disamakan dengan barang dagangan yang harus dijual dan mendatangkan uang? Gak kan?!
Kenapa aku gak punya pacar?
Ini karena masalah hati,
Ini karena masalah memilih,
dan ini karena masalah penantian.
Aku pernah pacaran. Hubunganku dengan beberapa pria berujung kegagalan karena waktu itu aku masih terlalu kecil untuk serius menjalani suatu hubungan. Tak pernah ada yang melewati usia pacaran lebih dari tiga bulan. Kemudian, seiring waktu aku mulai berpikir untuk menjalani suatu hubungan yang serius dengan seseorang dan aku berhasil melewati waktu. Usia hubunganku menginjak tahun. Namun tahun ketiga mendekati usia yang keempat hubunganku dengan dia, kudapati kekecewaan, patah hati, sakit hati, semua bercampur aduk menjadi satu. Untuk kesekian kalinya, hubunganku gagal.
Sudah setahun ini aku tak lagi merasakan rasa yang paling indah yang bernama "Cinta" itu. Tak bisa lagi kudapati dari beberapa pria yang sempat melakukan pendekatan denganku. Rasa-rasaku sudah mati. Akhirnya mereka sama sekali tak kuanggap ada, karena memang aku tak bisa memberikan rasa yang sama seperti yang pernah kuberikan dan pernah ada dulu.
Aku memilih sendiri. Sendiri menikmati waktuku. Sendiri untuk menjauh dari pria yang pernah kucintai bertahun-tahun. Sendiri untuk mengejar mimpi untuk menjadi sukses. Sendiri untuk membenahi diriku menjadi aku yang lebih baik dari yang kemarin dan mempersiapkan untuk membuka hatiku bagi pria yang tepat, yang kan kupanggil lelaki-ku.
Ini masalah hati yang nantinya akan kuserahkan kepada pria yang sanggup menjaga hatiku, memperlakukanku dengan baik dan tepat seperti yang telah dilakukan papa-ku ke mama-ku.
Ini masalah hati yang akan membuatku menjadi nyaman berada disekitarnya.
Ini masalah hati yang mau menerima masa laluku, yang mau S A L I N G menutupi kekurangan dengan kelebihan.
Ini masalah memilih seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku dan sanggup hidup hingga menjadi tua bersama serta nanti bila saatnya kembali ketanah.
Ini masalah memilih seorang lelaki masa depan, seorang suami, dan "A right father for my childrens."
Ini masalah memilih seseorang yang meletakkanku di masa depannya, membangun impian kami bersama, dan sanggup menafkahiku dan anak-anakku kelak.
Ini masalah penantian tentang "A right men who treat me like my father, like my brother, like my best friend, and exactly my men."
Ini masalah penantian tentang dia yang tak hanya mencintaiku, anak-anak kami tapi dia yang mencintai keluargaku dan aku mencintai keluarganya juga.
Ini masalah penantian terhadap seseorang yang akan diberikan Tuhan kepadaku, dia yang mengubahku menjadi wanita yang lebih baik dan dia yang membawaku menjadi lebih dekat dengan Tuhan.
Ini bukan keinginanku, harapanku untuk memilih pria yang terlalu sempurna tapi ini adalah sebuah pilihan untuk bersama dengan pria yang tepat. Dia yang kan kupanggil lelaki-ku, lelaki masa depanku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar