Teruntuk kamu lelaki yang selalu aku rindukan,
Malam ini aku mendengarkan lagi musik, seperti malam-malam yang sebelumnya musik selalu berhasil meneduhkan hatiku, mengubah kejengkelanku, kekecewaanku, dan amarahku menjadi kebahagiaan. Beberapa musik yang kudengar, ternyata membuat otakku mulai disibukkan dengan bayanganmu. Terpikir olehku untuk menulis surat cinta ini lagi kepada kamu yang selalu aku rindukan.
Diam-diam aku mulai tersenyum mengingat tiap waktu yang selalu kita ciptakan bersama. Sebagian besar dari waktu itu benar-benar hebat. Tentu aku sangat berterima kasih kepada waktu telah mendatangkan kesempatan adanya sebuah pertemuan untuk kita. Meski singkat, tak lebih dari sebulan tapi tiap detik bersamamu mendatangkan sensasi yang luar biasa menancap tepat di jantungku, saat debaran jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya ketika sepasang bola mata kita saling beradu pandang sambil tersenyum dan kita saling berbisik mengumbar kata-kata cinta.
Ah, desahku sambil menggigit bibir bawahku sendiri. Aku rindu sekali padamu. Sudah lama sekali saat terakhir kali aku bisa memandangmu lekat-lekat, sepasang matamu mampu kutangkap hanya dalam beberapa sentimeter jaraknya. Jelasnya itu tidak ribuan atau mungkin milyaran jarak, atau tidak dalam mimpi dan angan-anganku saja. Sudah lama sekali rasanya aku tak memenuhi sela-sela jarimu dengan jemariku, memamerkanmu kepada teman-temanku, kepada tiap orang yang kita temui di jalan bahkan dirumah, dan sudah lama aku tidak bisa menggandengmu untuk kupamerkan lagi kepada beberapa pasang mata pria yang melirikku sedikit saat kita berjalan berduaan. Sudah lama kita tidak saling bercanda gurau, saling mencubit satu sama lain, dan saling memberikan beberapa gigitan kecil ditangan sebagai candaan dan kita tertawa bersama karena kebodohan kecil atau keanehan kecil yang salah satu dari kita melakukannya entah sengaja atau tak disengajakan.
Lalu sudah lama sekali kita tidak berjumpa, saling memberikan kecupan, saling memeluk, tertawa dan menangis bersama. Sudah lama sekali kita tak melakukannya bersama. Bahkan saat kita terpisah oleh ribuan kilometer jarak antara kota Manado dengan kota Ambon, kita sudah jarang melakukan tiap waktu yang hebat itu atau bahkan kita sudah tidak melakukannya. Aku pikir terakhir kali aku merasa begitu dekat dan berarti bagimu, saat terakhir kali kamu mengecup dahiku diatas kapal yang kutumpangi untuk kembali ke kota Manado melanjutkan kuliahku, dan mungkin saat terakhir kali kamu menelponku dan mengatakan kamu merindukanku saat kamu kembali kerumahmu setelah selesai mengantarku ke pelabuhan. Ah, aku kembali mendesah. Aku juga menahan napasku sedikit lama lalu menghembuskannya dengan cepat. "Mungkin semuanya telah berubah," pikirku.
Aku tak ingin mengajukan pertanyaan lagi, mengapa begini atau mengapa harus begitu. Karena aku kini sadar untuk setiap pertanyaan tidak perlu selalu ada jawabannya. Toh percuma saja jika aku bertanya dan kamu membisu atau menanggapiku dengan sikapmu yang cuek. Aku tahu dengan benar sekarang karena aku juga sudah belajar dari masalah-masalah kita beberapa waktu yang telah lewat, yang kini sudah tak perlu kita ingat karena kita ingin sama-sama memperbaikinya, aku tahu juga karena aku belajar dari beberapa orang yang menasihatiku baik itu dengan halus atau sedikit keras bahwa "Tiap lelaki yang menjalani LDR itu bila sudah terlalu lama akan jenuh juga dengan segala rutinitas, jika mereka cuek cukup tanggapi dengan santai karena untuk setiap hal yang terjadi tidak perlu ditanggapi dengan serius, dan setiap kesalahan yang terjadi tidak perlu mengetahui kebenarannya." Aku mulai mengerti semua jadi itu sudah tidak jadi permasalahan untukku lagi, seperti dulu.
Alasan mengapa aku mulai menulis surat cinta ini bukan untuk mengeluh atau berdebat denganmu soal kita yang sudah lama merajut kasih dan semakin jauh, bukan hanya soal jarak kita tapi keegoisan kita masing-masing yang membuat kita semakin jauh. Entahlah ini hanya terpikir begitu saja olehku. Aku menulis ini untuk mengatakan seberapa dalamnya aku merindukanmu tiap waktuku, lebih dari yang kau tahu. Alasan lainnya adalah aku ingin kamu mengingat dan sedikit berkaca dari tiap waktu kita yang dulu, semuanya terasa benar, semuanya terasa hebat. Aku merindukan tiap waktu bersamamu.
Andai nanti kita berjumpa lagi .. pertama sekali yang ingin kulakukan adalah mengeluh tentang jarak yang melelahkan, perjalanan yang semakin menanjak dengan berbagai masalah yang kadang seperti belati yang menghujam tepat dijantung, dan berpura-pura aku lelah agar kamu tersenyum kepadaku sambil mengelus-elus rambutku dan membelai kedua pipiku dan memberi kecupan hangat didahi untuk menenangkanku. Selanjutnya kan kuciptakan tiap waktu kita yang indah bersama lagi, menggenggam tanganmu, memelukmu dan tiap detail hal yang ingin kulakukan bersamamu.
Terakhir yang ingin aku sampaikan padamu lewat tulisan ini adalah, meskipun kita terpisah oleh ribuan kilometer jarak, meskipun kadang kita berkutat dengan telpon genggam, meskipun kadang kita harus berdebat, meskipun kadang kita harus berlari, pernah berhenti, lalu kemudian berjalan berdampingan lagi, lalu berdiam disuatu tempat untuk menunggu, meskipun kita jenuh dengan rutinitas LDR yang sekarang kita lewati lagi, aku harap kamu juga selalu merasakan sama seperti yang selalu kurasakan tiap waktu yaitu merindukanku ..
kecupan hangat dipipimu,
dari wanitamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar