one day, you will know ..

Minggu, 23 Februari 2014

Cerita Sore Kelabu - Cinta Seharusnya Menyebut KITA bukan keakuan atau kekamuan.


Sore kelabu bagiku .. 
Ku pura-pura saja aku menikmati semua kegembiraan saat jalan-jalan. Ku pura-pura saja aku tertawa tapi mataku hampir saja meledak dengan air mata yang ingin segera keluar. Ku berusaha saja menahan semua sekuat dan semampuku untuk tegar. 
Ah entah suasana hatiku yang sedang kacau atau akal sehatku seolah tak berada pada tempatnya. 
Kedua bola mataku selalu ku palingkan dari tatapan orang-orang. Mungkin saja mereka hampir atau tengah menangkap sendunya mataku yang sehabis menangis. 

Dalam perjalanan didalam sebuah angkutan umum, aku duduk tepat dibelakang kursi pengemudi dan kursi yang bersebelahan dengan kursi pengemudi. Aku mengamati dengan seksama kedua kursi yang ditempati oleh seorang bapak berkacamata, berbaju coklat muda sedang menyetir, kira-kira umurnya sekitar 55-an, lalu yang duduk disampingnya seorang ibu berkacamata juga, berbaju putih, kira-kira sekitar 50-an, umur mereka mungkin tak terpaut jauh dan lalu aku mengamati dengan seksama ibu ini memegang segenggam uang dalam hitungan ribuan, seperti itu. Aku belum menangkap apa-apa dari pemandangan ini. Lalu kemudian angkutan yang kutumpangi ini berhenti, rupanya menunggu seorang penumpang naik. Aku mulai kembali mengamati kedua bapak dan ibu didepan dudukku ini. Keduanya tampak sedang berbicara, lalu si ibu kembali berseru, "Malalayang .. malalayang .." Si bapak pun kembali berbicara pelan dengan si ibu. Aku kurang mendengar apa yang mereka bicarakan, bukan maksudku menguping pembicaraan mereka tapi aku hanya dihantui oleh rasa penasaranku saja. Ah ! Yah jadi seperti ini .. Dikepalaku seolah muncul lampu yang sejak tadi kucari-cari. Aku tertawa dalam hati. Diam-diam aku mulai tersenyum. "Romantis." Tuturku dalam hati. Sudah kuduga pasti mereka adalah sepasang suami istri. Wah .. Hatiku bergirang-girang melihat pemandangan romantis seperti ini. Si bapak menyupir sebuah angkot lalu si ibu yang menjadi keneknya, duduk bersebelahan dengannya.

Dari cerita yang kualami sendiri diatas, tentu memacu otakku untuk berpikir menulis sesuatu didalam postinganku kali ini lalu jariku pun mulai menari-nari diatas keyboard laptopku, meski sudah larut malam aku masih ingin menulis ini. Jarang sekali aku melihat pemandangan romantis seperti ini, biasanya aku hanya melihatnya di film-film romantis yang sering kutonton. 
 
Jujur saja didalam hatiku selain ada kegirangan tersendiri melihat pemandangan romantis nyata ini, aku sempat merasa iri. Perasaan yang jarang sekali kutemukan didalam diriku, maksudku kehidupanku, cintaku dan segala sesuatu yang seperti ada didalam khayalanku. Ah tapi bagaimanapun aku sadar kalau segala sesuatu yang kita inginkan tak semuanya harus terjadi didalam hidup kita. Kadang kenyataan tak sesuai dan seindah khayalan kita. 
 
Cerita bapak dan ibu di angkutan umum hari ini mengajarkanku sesuatu, yang ingin kubagikan kepada kamu atau kalian yang membaca postingan tulisanku. 
 
Cinta itu harusnya seperti ini .. 
 
Cinta harusnya bisa melakukan segala sesuatu bersama-sama .. 
 
Cinta harusnya bisa saling mendukung ..
 
Bukan untuk menjatuhkan, bukan untuk meninggalkan, bukan untuk mengabaikan, 
dan segala sesuatu yang berbau personal !

Cinta itu harusnya bisa bertahan bersama-sama didalam situasi apapun .. 

Cinta tak semestinya menjadi keAKUan atau keKAMUan, 
atau tidak semestinya berkata kamu saja dan aku saja .. 

TAPI .. cinta itu seharusya bersama-sama, 
saling menggandeng didalam rumah yang kita bangun yang ku sebut sebagai hubungan, 
lalu bersama-sama mengatakan KITA. 
Cinta harusnya bisa seperti itu. 

Ini cinta .. 
Cinta itu bukan milik seseorang, tapi milik dua insan manusia yang berpaut menjadi satu jiwa dan satu hati, serta melakukan segalanya dalam keKITAan. Itulah makna cinta yang sebenarnya. 


Kamis, 13 Februari 2014

Surat Kerinduan tentang Cinta Kita


Teruntuk kamu lelaki yang selalu aku rindukan, 

Malam ini aku mendengarkan lagi musik, seperti malam-malam yang sebelumnya musik selalu berhasil meneduhkan hatiku, mengubah kejengkelanku, kekecewaanku, dan amarahku menjadi kebahagiaan. Beberapa musik yang kudengar, ternyata membuat otakku mulai disibukkan dengan bayanganmu. Terpikir olehku untuk menulis surat cinta ini lagi kepada kamu yang selalu aku rindukan. 

Diam-diam aku mulai tersenyum mengingat tiap waktu yang selalu kita ciptakan bersama. Sebagian besar dari waktu itu benar-benar hebat. Tentu aku sangat berterima kasih kepada waktu telah mendatangkan kesempatan adanya sebuah pertemuan untuk kita. Meski singkat, tak lebih dari sebulan tapi tiap detik bersamamu mendatangkan sensasi yang luar biasa menancap tepat di jantungku, saat debaran jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya ketika sepasang bola mata kita saling beradu pandang sambil tersenyum dan kita saling berbisik mengumbar kata-kata cinta. 

Ah, desahku sambil menggigit bibir bawahku sendiri. Aku rindu sekali padamu. Sudah lama sekali saat terakhir kali aku bisa memandangmu lekat-lekat, sepasang matamu mampu kutangkap hanya dalam beberapa sentimeter jaraknya. Jelasnya itu tidak ribuan atau mungkin milyaran jarak, atau tidak dalam mimpi dan angan-anganku saja. Sudah lama sekali rasanya aku tak memenuhi sela-sela jarimu dengan jemariku, memamerkanmu kepada teman-temanku, kepada tiap orang yang kita temui di jalan bahkan dirumah, dan sudah lama aku tidak bisa menggandengmu untuk kupamerkan lagi kepada beberapa pasang mata pria yang melirikku sedikit saat kita berjalan berduaan. Sudah lama kita tidak saling bercanda gurau, saling mencubit satu sama lain, dan saling memberikan beberapa gigitan kecil ditangan sebagai candaan dan kita tertawa bersama karena kebodohan kecil atau keanehan kecil yang salah satu dari kita melakukannya entah sengaja atau tak disengajakan. 

Lalu sudah lama sekali kita tidak berjumpa, saling memberikan kecupan, saling memeluk, tertawa dan menangis bersama. Sudah lama sekali kita tak melakukannya bersama. Bahkan saat kita terpisah oleh ribuan kilometer jarak antara kota Manado dengan kota Ambon, kita sudah jarang melakukan tiap waktu yang hebat itu atau bahkan kita sudah tidak melakukannya. Aku pikir terakhir kali aku merasa begitu dekat dan berarti bagimu, saat terakhir kali kamu mengecup dahiku diatas kapal yang kutumpangi untuk kembali ke kota Manado melanjutkan kuliahku, dan mungkin saat terakhir kali kamu menelponku dan mengatakan kamu merindukanku saat kamu kembali kerumahmu setelah selesai mengantarku ke pelabuhan. Ah, aku kembali mendesah. Aku juga menahan napasku sedikit lama lalu menghembuskannya dengan cepat. "Mungkin semuanya telah berubah," pikirku.

Aku tak ingin mengajukan pertanyaan lagi, mengapa begini atau mengapa harus begitu. Karena aku kini sadar untuk setiap pertanyaan  tidak perlu selalu ada jawabannya. Toh percuma saja jika aku bertanya dan kamu membisu atau menanggapiku dengan sikapmu yang cuek. Aku tahu dengan benar sekarang karena aku juga sudah belajar dari masalah-masalah kita beberapa waktu yang telah lewat, yang kini sudah tak perlu kita ingat karena kita ingin sama-sama memperbaikinya, aku tahu juga karena aku belajar dari beberapa orang yang menasihatiku baik itu dengan halus atau sedikit keras bahwa "Tiap lelaki yang menjalani LDR itu bila sudah terlalu lama akan jenuh juga dengan segala rutinitas, jika mereka cuek cukup tanggapi dengan santai karena untuk setiap hal yang terjadi tidak perlu ditanggapi dengan serius, dan setiap kesalahan yang terjadi tidak perlu mengetahui kebenarannya." Aku mulai mengerti semua jadi itu sudah tidak jadi permasalahan untukku lagi, seperti dulu. 

Alasan mengapa aku mulai menulis surat cinta ini bukan untuk mengeluh atau berdebat denganmu soal kita yang sudah lama merajut kasih dan semakin jauh, bukan hanya soal jarak kita tapi keegoisan kita masing-masing yang membuat kita semakin jauh. Entahlah ini hanya terpikir begitu saja olehku. Aku menulis ini untuk mengatakan seberapa dalamnya aku merindukanmu tiap waktuku, lebih dari yang kau tahu. Alasan lainnya adalah aku ingin kamu mengingat dan sedikit berkaca dari tiap waktu kita yang dulu, semuanya terasa benar, semuanya terasa hebat. Aku merindukan tiap waktu bersamamu. 

Andai nanti kita berjumpa lagi .. pertama sekali yang ingin kulakukan adalah mengeluh tentang jarak yang melelahkan, perjalanan yang semakin menanjak dengan berbagai masalah yang kadang seperti belati yang menghujam tepat dijantung, dan berpura-pura aku lelah agar kamu tersenyum kepadaku sambil mengelus-elus rambutku dan membelai kedua pipiku dan memberi kecupan hangat didahi untuk menenangkanku. Selanjutnya kan kuciptakan tiap waktu kita yang indah bersama lagi, menggenggam tanganmu, memelukmu dan tiap detail hal yang ingin kulakukan bersamamu. 

Terakhir yang ingin aku sampaikan padamu lewat tulisan ini adalah, meskipun kita terpisah oleh ribuan kilometer jarak, meskipun kadang kita berkutat dengan telpon genggam, meskipun kadang kita harus berdebat, meskipun kadang kita harus berlari, pernah berhenti, lalu kemudian berjalan berdampingan lagi, lalu berdiam disuatu tempat untuk menunggu, meskipun kita jenuh dengan rutinitas LDR yang sekarang kita lewati lagi, aku harap kamu juga selalu merasakan sama seperti yang selalu kurasakan tiap waktu yaitu merindukanku .. 

                                                                                              
                                                kecupan hangat dipipimu, 
                                                           dari wanitamu

Senin, 10 Februari 2014

I dont want to let you go!



Jangan katakan kamu ingin pergi.
Jangan katakan kamu ingin aku bahagia.
Jangan katakan kamu bukanlah yang terbaik untukku.
Jangan katakan aku akan bahagia bila bersamanya.
Jangan .. kumohon jangan katakan itu!

Jangan membuat aku akan menggunakan caraku tuk memaksamu tetap tinggal bersamaku, disisiku ..
Aku tahu ini konyol ..
Tapi salahkah aku menggunakan caraku tuk menahanmu dengan seluruh kekuatan yang ada?
Salahkah diriku bila terlalu mencintaimu?
dan salahkah aku bila harus memaksamu tuk tetap disisiku?

Aku tahu kamu mungkin saja sudah jenuh dengan sikapku,
Aku tahu kamu ingin pergi ..
Tapi aku tak mau!
Aku tak ingin kamu pergi.
Jangan tanyakan mengapa ..
Karena jujur saja aku tak tahu mengapa aku ingin kamu tetap bersamaku. 

Jangan katakan bila bersamanya lebih baik daripada bersamamu.
Jangan katakan bila aku kan bahagia.
Itu lelucon bagiku ..
Masih belum tahukah kamu letak kebahagiaanku?
Haruskah kuukir dilangit biar kamu dan semua orang melihat bahwa bahagiaku ada padamu?

Hei kamu ..
Jawab aku .. jangan hanya berdiam dan menatapku!

Haruskah aku mengiba agar kamu tetap denganku?
Ah terlalu kekanak-kanakan ..
Aku tahu kamu tak menyukainya.
Jadi harus bagaimana diriku saat kamu ingin meninggalkanku bersama setiap bait kisah kita?

Kamu ..
Tolong katakan kepadaku bagaimana caranya aku bisa melepaskanmu pergi?
Jika tiap desahan nafasku memanggil namamu,
Jika tiap detak jantungku hanya ada kamu.
Jika kedua bola mataku hanya mampu menangkap bayangmu.
Jika otakku hanya dirajai oleh wajahmu.
Jika pelukanmu saja tempat ternyaman bagiku berpulang.

Jadi katakan padaku, bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu?

Tetap tinggallah bersamaku ..
Selalu dan selamanya disisiku!
Biarkan bibir dan lidahku melafalkan nama lelakiku yaitu namamu.


I DONT WANT TO LET YOU GO !

(to JLAD)

Penerimaan Cinta


Beberapa teman datang dan bertanya kepadaku, 
Mengapa aku masih mencintaimu? 
Mengapa aku masih bertahan denganmu? 
Mengapa aku masih menunggumu? 
Mengapa aku masih berharap padamu? 
Mengapa aku masih setia untukmu? 
Mengapa aku?

Mungkin saja aku gila!
Mungkin saja aku bodoh!
Mungkin saja aku ini wanita gila dan bodoh yang hati dan cintanya masih terarah padamu. 

Mereka bertanya, tidakah aku membencimu setelah aku disakiti olehmu? 
Aku menjawab, aku tidak akan menjadi wanita munafik yang menjawabnya dengan kata tidak. 
Tentu saja aku membencinya!
Aku tidak membenci cintamu, tidak pula hadirmu. 
Aku juga tidak membenci diriku lalu menyesali cintaku yang sebegitu dalamnya padamu. 
Aku tidak pula membenci "Kita" atau tidak pula membenci lalu menyalahkan jarak dan waktu. 
Aku hanya membenci cara kita. Ya itulah ego kita!
Percuma jika saling cinta, tapi selalu dihadang dengan tembok besar yang dinamakan ego diantara aku dan kamu. 

Mereka bertanya, apakah aku begitu menyukainya? 
Jika pertanyaan itu tentang ego kita, sudah pasti aku akan menjawab tidak aku sama sekali tidak menyukainya. 
Jika pertanyaan itu tentang betapa besarnya aku menyukai semua hal tentangmu meski kadang itu menyakitiku dan membuat aku menjadi wanita bodoh.. aku akan tersenyum dan menjawab tentu saja aku menyukainya, semua orang bisa melakukan itu. Bukan cuma aku, tapi mungkin saja orang lain. 

Mereka bertanya, lalu masih sukakah aku bertahan? 
Tentu saja aku masih suka! 
Jangan tanyakan itu kepada hatiku .. tetap saja ia akan menjawab tentu saja masih! 
Memang aku membencinya, memang aku tidak menyukainya. 
Tapi ini masalah hati, masalah cinta, masalah kenyamanan, masalah bertahan meski tersakiti. 

Bukan sebuah kebodohan, bukan sebuah kegilaan .. 
tapi itu soal ketulusan menerima dan diterima. 
Bukankah cinta itu soal kebodohan dua insan yang masih bertahan meski banyak kerikil yang diinjak? 
Bukankah cinta itu soal kegilaan dua insan yang saling mencinta dan menciptakan waktu-waktu hebat yang dinamakan kenangan? 
Cinta takan bisa lepas dari yang namanya bodoh dan gila ! Karena itulah cinta bisa menerima meski hatinya tersakiti, cinta bisa memaafkan meski tersakiti, dan bisa menerima sekalipun ia membencinya. 

~') 



sweet heart,
Eva