Percakapan singkat dengan seorang tukang ojek berinisial B, tentang kesetiaan. Percakapan ini berlangsung saat aku baru saja turun dari mobil, dan harus menumpangi sebuah motor yang disebut sebagai ojek untuk bisa sampai ke area kost-kostan kami karena mobil penumpang hanya sampai di bagian pangkalan tapi jarang sekali baru mobil-mobil itu berjalan masuk ke dalam kampus kami yang disekitarnya ada banyak kost-kostan tempat para mahasiswa yang dekat maupun jauh tinggal.
B : "Wah Cha, kamu selalu jalan sendirian ya? Kok gak pernah kelihatan jalan sama pacar? Sekali-kali ajak saja pacar kamu untuk jalan-jalan biar om juga tahu. Ya siapa tahu kalau saling berpapasan dijalan bisa saling menyapa."
A : (aku tertawa sejenak, lalu kemudian menarik napas panjang dan tersenyum lebar) "Aku gak punya pacar om."
B : "Masa gak punya pacar? dengan wajah seperti ini, tentu banyak lelaki yang ingin dekat dan menjadi pacarmu. Iya kan? Masa gak punya? Bohong itu."
A : (lagi-lagi aku tersenyum) "Pacarku bukan disini om, pacarku dijauh sana (maksudku Ambon, inisial L *yah meski hubungan kami tak berjalan sebaik dulu tapi aku tetap menyayanginya dan tetap berusaha setia dan mempertahankan komitmen, meski mungkin dia sudah tidak*) "Kalau aku punya pacar disini, pasti setiap hari dia akan mengantarku pergi-pulang, atau jalan bersama-sama. Tapi ini, bisa om lihat sendiri semenjak aku disini tak pernah kan aku sedikitpun berjalan bersama teman cowok yang mungkin dikira sebagai pacarku. Kalaupun iya, pasti dengan banyak orang atau cuma sekedar jalan sebagai teman, dan tak lebih."
B : "Wah jadi setia ini? Hebat!"
A : "Iya om, puji Tuhan .. aku hanya berusaha setia. Aku sudah cukup dewasa dan sudah cukup tahu untuk menjaga diriku juga hatiku. Meski banyak lelaki yang mendekatiku, tapi kalau hatiku sudah menetap aku akan berusaha menjaganya sebisaku."
B : "Ya .. ya .. ya! Harus begitu. Setia itu penting. Banyak rumah tangga sekarang yang kacau karena sering terjadi perselingkuhan. Setia itu penting dan harus dimulai sejak dini. Bagus .. pemikiran yang bagus. Hebat!"
A : (senyumku semakin melebar, aku merasa wajahku memerah dipuji seperti itu) "Tentu om, setia itu penting. Sekalipun masih pacaran apalagi jarak jauh, bukankah kesetiaan itu lebih mahal dari apapun? dan itu takan bisa dibeli dengan apapun. Rumah tangga yang sukses karena kedua-duanya saling menjaga komitmen dalam janji setia mereka. Kalau baru pacaran saja sudah selingkuh bagaimana kedepannya? mungkin sedikit mengkhawatirkan."
B : "Iya benar.. kamu benar. Orang yang setia pasti mendapat apa yang terbaik dari Tuhan."
A : "Iya om, benar. Tuhan kan gak pernah salah memasangkan orang yang tepat pada orang yang tepat pula. Kalau jodoh, mau lari kemana pun tetap akan kembali. Lagian sekarang ini bagiku yang terpenting adalah kuliah-sarjana-lalu punya banyak gelar seperti yang aku cita-citakan lalu punya banyak uang, kemudian membahagiakan orang tuaku dan adikku."
B : "Benar .. pasti banyak lelaki yang akan semakin menginginkanmu kalau kamu sudah kerja apalagi dengan wajahmu yang gak diragukan."
A : (aku hanya tertawa kecil)
B : "Zaman sekarang susah menemukan orang seperti kamu. Wanita zaman sekarang bagi mereka, karena mereka punya tampang yang cantik jadi pacaran banyak, setelah dengan satu ada lagi yang lain, atau sama-sama dengan yang lain saat dengan yang lain pula. Hebat kamu! Harus jaga itu! Om mendukung! Hebatlah kamu! Sangat bagus."
A : (aku tertawa sejenak, lalu kemudian menarik napas panjang dan tersenyum lebar) "Aku gak punya pacar om."
B : "Masa gak punya pacar? dengan wajah seperti ini, tentu banyak lelaki yang ingin dekat dan menjadi pacarmu. Iya kan? Masa gak punya? Bohong itu."
A : (lagi-lagi aku tersenyum) "Pacarku bukan disini om, pacarku dijauh sana (maksudku Ambon, inisial L *yah meski hubungan kami tak berjalan sebaik dulu tapi aku tetap menyayanginya dan tetap berusaha setia dan mempertahankan komitmen, meski mungkin dia sudah tidak*) "Kalau aku punya pacar disini, pasti setiap hari dia akan mengantarku pergi-pulang, atau jalan bersama-sama. Tapi ini, bisa om lihat sendiri semenjak aku disini tak pernah kan aku sedikitpun berjalan bersama teman cowok yang mungkin dikira sebagai pacarku. Kalaupun iya, pasti dengan banyak orang atau cuma sekedar jalan sebagai teman, dan tak lebih."
B : "Wah jadi setia ini? Hebat!"
A : "Iya om, puji Tuhan .. aku hanya berusaha setia. Aku sudah cukup dewasa dan sudah cukup tahu untuk menjaga diriku juga hatiku. Meski banyak lelaki yang mendekatiku, tapi kalau hatiku sudah menetap aku akan berusaha menjaganya sebisaku."
B : "Ya .. ya .. ya! Harus begitu. Setia itu penting. Banyak rumah tangga sekarang yang kacau karena sering terjadi perselingkuhan. Setia itu penting dan harus dimulai sejak dini. Bagus .. pemikiran yang bagus. Hebat!"
A : (senyumku semakin melebar, aku merasa wajahku memerah dipuji seperti itu) "Tentu om, setia itu penting. Sekalipun masih pacaran apalagi jarak jauh, bukankah kesetiaan itu lebih mahal dari apapun? dan itu takan bisa dibeli dengan apapun. Rumah tangga yang sukses karena kedua-duanya saling menjaga komitmen dalam janji setia mereka. Kalau baru pacaran saja sudah selingkuh bagaimana kedepannya? mungkin sedikit mengkhawatirkan."
B : "Iya benar.. kamu benar. Orang yang setia pasti mendapat apa yang terbaik dari Tuhan."
A : "Iya om, benar. Tuhan kan gak pernah salah memasangkan orang yang tepat pada orang yang tepat pula. Kalau jodoh, mau lari kemana pun tetap akan kembali. Lagian sekarang ini bagiku yang terpenting adalah kuliah-sarjana-lalu punya banyak gelar seperti yang aku cita-citakan lalu punya banyak uang, kemudian membahagiakan orang tuaku dan adikku."
B : "Benar .. pasti banyak lelaki yang akan semakin menginginkanmu kalau kamu sudah kerja apalagi dengan wajahmu yang gak diragukan."
A : (aku hanya tertawa kecil)
B : "Zaman sekarang susah menemukan orang seperti kamu. Wanita zaman sekarang bagi mereka, karena mereka punya tampang yang cantik jadi pacaran banyak, setelah dengan satu ada lagi yang lain, atau sama-sama dengan yang lain saat dengan yang lain pula. Hebat kamu! Harus jaga itu! Om mendukung! Hebatlah kamu! Sangat bagus."
Lalu kemudian aku sampai juga didepan kost-kostanku dan berakhir sudahlah percakapan singkat kami berdua. Aku memang banyak dikenal oleh beberapa tukang ojek, maklum aku sering sekali mengajak mereka untuk mengobrol jadi mereka pun sering melakukan hal yang sama saat mereka memboncengiku.
Inti dari percakapan itu kesetiaan itu mahal dan tiada tandingan bila beradu kekuatan.
Setialah dalam perkara kecil, maka segala sesuatu akan indah bagimu.
Inti dari percakapan itu kesetiaan itu mahal dan tiada tandingan bila beradu kekuatan.
Setialah dalam perkara kecil, maka segala sesuatu akan indah bagimu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar