one day, you will know ..

Minggu, 18 Januari 2015

PERPISAHAN (terinspirasi dari Drama Korea)

Perpisahan .. 
Seperti apakah kamu akan menggambarkannya?
Bagaimanakah caramu untuk menceritakannya?
Mungkinkah, kamu pernah mengalaminya?
"Tentu saja aku pernah mengalaminya," jawabku. 
 Aku pikir, semua orang pernah mengalaminya ..

Entah perpisahan seperti apa yang dialami 
Entah perpisahan dengan siapa 
Entahlah .. 
Semua punya kesempatan mengalami perpisahan dengan siapa dan dengan cara seperti apa mereka mengalaminya.

Hari ini aku menonton sebuah drama korea. Sebuah drama tentang cinta, keluarga, persahabatan, fakta-fakta dari masa lalu yang akhirnya membuat kebenaran yang selama ini disimpan rapi akhirnya terkuak. Tapi yang lebih membuat hatiku tergugah adalah karena drama ini juga menceritakan tentang perpisahan dua orang yang saling mencintai. Luka yang ditimbulkan akibat kebenaran itu mendatangkan keegoisan sebelah pihak untuk pergi .. untuk menghilang .. untuk menjauh .. untuk melarikan diri dari kenyataan .. untuk bersembunyi .. Seperti itulah perpisahan.

Aku merenungkan setiap kata-katanya.
Aku mulai memacu otakku untuk memikirkan setiap kata didalam drama. 
Akhirnya, aku menuangkan lagi setumpuk pikiran yang sejak tadi kupikirkan setelah menonton kembali drama yang sebenarnya sudah lama kunonton dan berulang kali kunonton.
Berbicara tentang perpisahan, seperti yang telah kukatakan bahwa tentu saja semua orang pernah mengalaminya. 
Hidup ini sebenarnya sederhana! Sederhana karena kita akan bertemu dengan seseorang lalu berpisah dengannya. Bertemu .. berpisah. Dua kata yang sampai akhir takan pernah terpisah.
Untuk setiap pertemuan akan ada perpisahan. 

Ah .. aku mulai basa-basi lagi. Eva .. Eva .. Kau melakukannya lagi. Haha, tawaku singkat. Aku mulai berbicara kepada diriku sendiri. Entah bagaimana aku harus mulai mengatakannya kepadamu tentang perpisahan sedangkan aku masih terluka dengan perpisahan. 

Sebuah perpisahan bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, benarkan?
Ya, Ya .. Benar! Saat ini aku sedang menjalaninya. 
Aku terluka jadi aku memutuskan berlari .. aku pergi .. aku menghilang .. aku bersembunyi .. dan lebih buruknya lagi, aku berusaha menghindari perasaanku sendiri. 
Berulang kali kukatakan kepada dia (lelaki yang kucintai) bahwa aku tak membutuhkannya, aku bisa hidup sendiri tanpanya, aku akan bahagia meski tanpanya, aku akan baik-baik saja.
Seperti itulah aku mengatakannya. Aku tahu saat aku mengatakan itu hanya akan menambah luka dihatiku, tapi aku tetap harus atau lebih tepatnya aku memaksakan diriku untuk mengatakannya kepadanya.

Drama itu mengingatkanku tentang betapa bodohnya aku mengatakan itu, betapa buruknya aku mengatakannya, betapa jahatnya aku saat mengatakannya. 
Kutahu hatiku terluka saat mengatakannya.
Kutahu hatiku menangis saat berusaha keras menghindarinya. 
Kutahu hatiku sedang menangis meronta-ronta, mencabik-cabikku. 
Sakit, iya sangat sakit! tegasku. 
Sakit hingga aku merasa hampir gila, ingin rasanya untuk kuakhiri hidupku. 
Untuk pertama kalinya aku merasa tak berguna 
Untuk pertama kalinya aku tak ingin hidup lebih lama. 

Drama ini menyadarkanku bahwa cinta yang kumiliki begitu egois terhadap dirinya. 
Keegoisanku untuk memilih berpisah dengan lelaki yang kucintai. Ego yang kuatasnamakan cinta. 
Jika aku begitu sangat mencintainya, mengapa harus melepaskannya? 
Mengapa kubiarkan dia pergi sedangkan aku sangat menginginkannya?
Mengapa tak kucegah kepergiaannya padahal aku begitu sangat merindukannya? 

Egois! pesan dari drama ini kepadaku.
Jika kau sangat .. sangat .. dan sangat mencintainya, takan mungkin kau melepaskan dia! 
Bukankah karena cinta jadi kau sangat menginginkannya? 
Bukankah karena cinta jadi kau sangat ingin memiliki dan menyentuhnya? 
Jadi bukankah melepaskan dia adalah hal terbodoh dan teregois yang kau lakukan? 
Kau pikir, kau akan baik-baik saja? Tidak .. tanya hatimu!
Bukankah kau begitu kesepian saat tak bisa lagi melihatnya? saat tak bisa lagi mendengar suaranya? saat tak bisa lagi menyentuhnya? 
Bukankah semua itu membuatmu sangat merindukannya? 
Bukankah semua itu membuatmu ingin mati saat ruang dihatimu terasa kosong tanpa tuan rumahnya? 

Lalu mengapa kau biarkan cintamu pergi? 
Jangan membuat dirimu terluka saat dia berada dipelukan orang lain! 
Jangan siksa dirimu lebih banyak! Kembalikan kepada pemiliknya.
Jangan membuat dirimu menderita lebih dari ini saat dia tak lagi ada di kehidupan ini, jika kamu tak ingin ada penyesalan yang kau pikul selama sisa hidupmu.

Drama ini menyuruhku .. "Hei bodoh! Kejarlah cintamu! Katakan kepadanya betapa kamu sangat mencintai dirinya! Jangan biarkan dia lepas dari genggamanmu! Jika kamu tidak melakukannya .. kamu akan menyesalinya! Kamu merindukannya, kamu menginginkannya disisimu, kamu sangat mencintainya .. jangan hindari itu! Biarkanlah luka ada pada tempatnya, dan biarkan kenangan baru yang kalian ciptakan bersama tumbuh, lalu menyiramnya hingga ia tumbuh subur dan berbunga." 

Perpisahan memang menyakitkan .. tetapi jika saling mencintai, kembalilah, jangan melakukan hal bodoh! 
Jika kamu mencintainya, katakanlah kepadanya setiap saat betapa kamu sangat mencintainya. Karena perpisahan yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan akibat cinta tapi karena kematian.
Jangan sampai kamu menyesal tak lagi bisa mengatakan betapa kamu sangat mencintainya saat kamu tak lagi merasakan hembusan dari tiap helaan nafasnya, saat dia sedang merebahkan kepalanya dilenganmu saat tidur, atau saat kamu tak lagi bisa menyentuhnya dan memeluknya.

***

note: drama yang kunonton itu rahasia! oh .. tulisan tentang perpisahan ini adalah ingatanku tentang perpisahan yang kualami dengan lelaki yang kucintai sudah setahun lebih ini berpisah dengannya, lelaki yang selalu menjadi sosok dalam hampir sebagian besar tulisanku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar