one day, you will know ..

Senin, 19 Januari 2015

Mahasiswa dan Pemerintah (terinspirasi dari: Dibalik 98)

Halo mahasiswa! 
Siswa dengan tanda kebesaran "Maha" yang berarti mengetahui, menguasai, dan sederetan kata yang mempunyai kekuatan arti dari kata tersebut.

Halo kamu yang sudah tidak lagi datang pukul 6.45 dan sudah tidak lagi pulang pukul 13.15 ! 
Halo kamu yang sudah tidak lagi menggunakan pakaian wajib merah putih, putih biru, putih abu-abu, lengkap dengan atributnya!
Halo kamu yang sudah tidak lagi mengikuti upacara bendera setiap senin pagi! 
Halo kamu yang sudah tidak lagi kecil melainkan sudah menjadi sosok remaja dengan tahap persiapan dewasa!
Halo kamu yang sudah menyandang nama mahasiswa ..
Halo! Salam yang juga kutujukan kepada diriku sendiri.

Hari ini aku menghabiskan waktu untuk hangout dengan sahabat-sahabat terkasih. 
Hari ini aku menyediakan waktu beberapa jam sebagai anak Indonesia yang cinta tanah airnya. 
Hari ini aku menonton film layar lebar yang diputar di studio 21, Manado. Judulnya: "Dibalik 98"

Dari judulnya aku pikir kejadian 17 tahun yang lalu tepatnya pada peristiwa Tri Sakti di bulan Mei 1998, ada kisah sejarah yang belum kuketahui secara keseluruhannya lewat buku yang sering kubaca waktu aku masih duduk dibangku sekolah dasar hingga menengah atas. Ah, ternyata sedikit mengecewakan karena kisahya di film-kan seperti yang sudah kuketahui lewat buku sejarah. 
Tapi aku cukup tegang dan ada rasa sedih melihat peristiwa tragis tahun 1998 itu.
 
Saat sedang menonton, aku membagi otakku untuk bekerja. Otak kananku menonton dan menikmati film Dibalik 98, sedangkan otak kananku berpikir tentang mahasiswa pada masa itu. Cukup menyesal sebenarnya dengan tingkah mereka tapi ada rasa simpati juga pada mereka yang hidup di masa itu. 
Betapa sulit perjuangan waktu hidup di masa krisis monoter yang dihadapi Indonesia. Aku melihat antrian panjang rakyat kecil hanya untuk kebutuhan pokok mereka, seperti antrian panjang minyak tanah yang ditunjukkan dalam film tersebut.
Well .. sulit memang hidup di masa kelam seperti itu.

Dilihat dari sisi kerakyatanku, ini beberapa pikiran dan perasaanku andai aku hidup di tahun 98:
"Aku butuh sandang dan pangan! Aku butuh kebutuhan dasar dan pokok terpenuhi agar aku terus hidup! Aku butuh memberi asupan makanan dilambung! Aku butuh memberi makan keluargaku! dan segelincir kebutuhan yang harus kupenuhi! Tapi kalau harga minyak naik, aku harus memasak dengan apa? Oke, ada kayu bakar. Eh tapi harga beras juga naik, lalu aku harus makan apa? Oke ada hasil tanah seperti umbi-umbian. Tapi apakah aku bisa makan itu setiap hari? Apakah orang-orang yang kucintai bisa makan itu setiap hari? Sedangkan harga kebutuhan pokok lain juga naik dan aku semakin kekurangan. Aku bukan mengeluh tapi uang yang kuhasilkan hanya cukup segini sementara kebutuhan yang harus kupenuhi naik segitu. Aku harus bagaimana? Pasrah! Didalam hati kecilku, aku merasa tertindas." 

Dilihat dari sisi pemerintah (yang kumaksud adalah Bapak Presiden Soeharto) dan krisis monoter di tahun 98:
"Aku prihatin terhadap penderitaan rakyatku juga. Jauh dilubuk hatiku, aku menyesal tidak bisa menjadi orang tua yang baik bagi rakyatku. Aku menangis. Aku meminta maaf. Tapi apa yang harus kulakukan? Krisis monoter yang dihadapi negara-ku sungguh malang. Rakyatku menderita. Rakyatku banyak yang kelaparan, tapi apa dayaku? Negara yang kucintai ini masih butuh pembangunan agar tidak lagi dijajah negara besar yang datang merampas hak milik rakyatku tercinta. Apa dayaku? Aku sedang berusaha tapi usahaku belum berhasil. Aku masih terjatuh dan jatuh lagi sementara rakyatku menagih tanggung jawabku sebagai orang tua mereka. Rakyatku mulai lelah menunggu hasil kerjaku, mereka mulai menuntut jawaban atas penderitaan yang mereka alami. Mereka mulai beraksi lewat sederetan orang pandai yang disebut mahasiswa, yang membawa aspirasi-aspirasi rakyat kepadaku lewat majelis perwakilan rakyat dan dewan perwakilan rakyat di ibukota. Mereka mulai menyuarakan pendapat mereka bersama dengan penderitaan yang selama ini mereka hadapi. Aku semakin sedih. Rakyatku tak lagi sabar untuk menunggu. Rakyatku sendiri memintaku untuk mengundurkan diri. Aku semakin bertambah sedih, tapi apa dayaku.. aku menuruti kemauan mereka walaupun dengan rasa sedih yang kutahan. Aku berharap semuanya akan baik-baik saja." 

Uh .. berakhir sudah perjalanan panjang diotak kiri. Well, mari kita membagi antara pikiran dan perasaan secara logis. Mari kita berpikir! Mari kita bercerita! Mari kita saling menuangkan pendapat kita!

Aku?
 
Jika kamu bertanya bagaimana pendapatku tentang tahun 1998 dan mengaitkannya dengan masa-masa selama aku menjadi seorang mahasiswa. Aku akan menguraikan pendapatku kedalam 2 poin besar. 

Pertama, tentang mahasiswa!
Well, karena aku mahasiswa juga, jadi tentu saja aku akan memilih menguraikan pendapatku tentang makhluk-makhluk yang diberi nama mahasiswa ini.
Entahlah aku harus mulai dari darimana, ah .. kurasa ini.
 
Mahasiswa .. iya, mahasiswa yang sudah memasuki usia remaja ketahap persiapan dewasa. Ia yang semakin dekat sejingkal dengan impian dan harapannya. Ia yang diberi karisma-karisma masing-masing sesuai bidangnya. Ia yang mulai berpikir logis. Ia yang mulai berani. Ia yang mulai bertanggung jawab. Ia yang penuh semangat dan tentu saja ia yang adalah makhluk dengan kecerdasan yang baik. Seperti itulah mahasiswa! 

Mahasiswa adalah orang yang pandai dan penuh semangat yang berkobar-kobar (bahasa kerennya, kusebut sebagai jiwa muda) jadi jika mahasiswa bergabung dengan mahasiswa yang lain dan menjadi satu, pastilah menjadi sekumpulan orang-orang pandai yang mempunyai semangat yang sama. 

TAPI .. mahasiswa tetap saja manusia yang mempunyai kekurangan. Kurangnya mereka adalah pertama, mereka masih dalam tahap persiapan dewasa sering mempunyai emosi yang labil sehingga amarah yang menggebu-gebu terlalu tampak. Beberapa diantara mereka belum mampu menguasai emosi mereka dan mengatasinya dengan baik. Kedua ialah karena amarah yang menggebu-gebu itu hingga mereka lupa bahwa mereka adalah orang yang pandai. Mereka mulai lupa tata cara yang diajarkan kepada mereka semenjak mereka duduk disekolah dasar adalah ketertiban. Pikiran yang cerdas itu mulai kabut. Mereka berontak! Mereka tidak lagi menggunakan kata-kata yang santun layaknya mahasiswa! Mereka tidak lagi  bertindak sopan! Mereka mulai menggunakan kekerasan! Mereka marah .. mereka menyerang. Misalnya saja, seperti yang digambarkan di film Dibalik 98 tersebut, mereka berlari kearah petugas keamanan yang sedang bertugas menjaga aksi demo mereka dan mulai menyerang petugas. Apakah itu yang dinamakan mahasiswa?

Menurutku, aku sama sekali tidak mengatakan bahwa aksi demo adalah salah. Tidak! Aksi demo adalah benar.. karena demo berasalah dari kata demokrasi yang berarti menyuarakan. Dengan kata lain aksi demo boleh saja dilakukan tapi lakukanlah dengan cerdas, secerdas nama mahasiswa yang diberikan kepada yang menyandang nama itu. 
Aku sangat menyesal dengan tingkah dari mahasiswa pada tahun 1998 saat itu. Well, aku harus salut juga bahwa mereka lebih peka pada penderitaan rakyat, mereka berani menyuarakan aspirasi-aspirasi rakyat, mereka mempunyai semangat yang sangat hebat dan bahwa mereka adalah orang-orang hebat dan cerdas. Tapi kenyataan yang membuat aku juga merasa menyesal karena tindakan mereka yang membuat demo tidak berkualitas hingga memakan korban, mereka membakar ban, mereka memalang jalan, mereka membuat rusuh, mereka berteriak-teriak tidak lagi seperti sedang demo = sedang menyuarakan penderitaan rakyat, tapi lebih terlihat seperti pasien di rumah sakit jiwa. Apakah ini yang dinamakan mahasiswa? Mengapa harus menggunakan amarah dan kekerasan untuk menyuarakan aspirasi rakyat? Bukankah itu hal terbodoh yang dilakukan? Berpikirlah belasan kali bahkan mungkin pulahan kali atau ratusan kali. Kita adalah mahasiswa jadi bertindaklah juga seperti seorang mahasiswa. Demo-lah dengan cara yang cerdas, jangan dengan cara yang akan merugikan diri sendiri dan orang-orang disekitar .. pikir sejenak, itu akan membuat luka baru dihatimu dan mereka disekitarmu. 
Apalagi aku sebagai mahasiswa keperawatan yang tentu saja belajar tentang kesehatan adalah yang terpenting, jadi kupikir akan sangat salah jika mahasiswa melakukan aksi demo dengan membakar ban (misalnya). Polusi! 
Ada yang pernah berdebat denganku soal aksi demo mahasiswa dan mengatakan seperti ini, "Memang sudah polusi juga kan? Toh di hutan-hutan banyak dibakar dan lain-lain yang membuat polusi." 
Aku tertawa singkat lalu menatap tajam kearah matanya (lewat emotion BBM karena waktu itu kami berdua sedang berdebat di BBM) sambil tersenyum, "Nah kamu sudah tahu kalau polusi tapi malah menambah polusi. Pikirmu itu bagus? Kemana mahasiswa yang cerdas? Pikir lagi!"

Pikir lagi ..

Kedua, tentang pemerintah hanya khusus pada tahun 1998.

Usai menonton Dibalik 98, aku yang dari awal sudah salut dengan Bapak Soeharto sebagai "Bapak Pembangunan" , aku semakin bertambah salut dan secara jujur film itu menunjukkan Bapak Soeharto yang sudah tampak tua dan membuatku merasa sedih karena disaat usia tuanya harus menghadapi sederetan masalah di negara yang dipimpimnya. Bahkan harus menerima desakan-desakan dari mahassiwa yang sempat mengeluarkan kata-kata yang kuanggap kata seperti itu tidak seharusnya dilayangkan kepada Bapak Presiden RI. Kata-kata yang masih kuingat difilm itu adalah seperti ini, "Jika Bapak menunduk kebawah, tanah sudah siap menerima Bapak." Kata yang sangat kusesalkan keluar dari mulut mahasiswa atau perwakilan mahasiswa yang saat itu berbicara. Bagaimanapun juga beliau adalah Bapak Negara RI. Entah seburuk apapun beliau menurut pandangan masing-masing orang, tapi tetap saja beliau adalah Bapak kita dan tidak sepantasnya kata seperti itu dikeluarkan.

Apakah krisis monoter adalah sepenuhnya kesalahan Presiden? Berpikirlah dengan kepala yang dingin .. kita tidak bisa begitu saja menyalahkan Presiden karena beliau adalah pemimpin negara ini. Wajar saja bila kita menghadapi krisis monoter pada saat itu. Krisis monoter bukanlah sebuah ketidakwajaran. Semua negara yang sedang membangun juga pernah mengalami hal yang sama, bukan cuma di negara kita saja.

Entahlah pada masa itu krisis monoter seperti apa yang dihadapi negara kita. Tapi aku sangat sedih dengan aksi mahasiswa kepada pemerintahan saat itu, meskipun aku juga ingin reformasi terhadap negaraku, hanya saja .. tindakan mahasiswa masa itu sungguh amat kusesali sebagai mahasiswa.

Ah, point kedua tidak terlalu penting .. aku lebih fokus pada poin pertama tentang mahasiswa. Bagaimanapun juga aku adalah mahasiswa, dan aku berusaha bijak dijalan tengah menanggapi aksi demo yang bahkan sampai saat ini sering terjadi.

Untuk teman-teman se-mahasiswa, berpikirlah sejenak saat ingin menyuarakan aspirasi rakyat. Bertindaklah dengan cerdas layaknya seorang mahasiswa. Aku  harap aksi demo kalian dimasa mendatang akan baik dan bahkan bisa lebih baik dari yang sebelumnya.

                                                    Salam, 
                                                                mahasiswa 

Minggu, 18 Januari 2015

PERPISAHAN (terinspirasi dari Drama Korea)

Perpisahan .. 
Seperti apakah kamu akan menggambarkannya?
Bagaimanakah caramu untuk menceritakannya?
Mungkinkah, kamu pernah mengalaminya?
"Tentu saja aku pernah mengalaminya," jawabku. 
 Aku pikir, semua orang pernah mengalaminya ..

Entah perpisahan seperti apa yang dialami 
Entah perpisahan dengan siapa 
Entahlah .. 
Semua punya kesempatan mengalami perpisahan dengan siapa dan dengan cara seperti apa mereka mengalaminya.

Hari ini aku menonton sebuah drama korea. Sebuah drama tentang cinta, keluarga, persahabatan, fakta-fakta dari masa lalu yang akhirnya membuat kebenaran yang selama ini disimpan rapi akhirnya terkuak. Tapi yang lebih membuat hatiku tergugah adalah karena drama ini juga menceritakan tentang perpisahan dua orang yang saling mencintai. Luka yang ditimbulkan akibat kebenaran itu mendatangkan keegoisan sebelah pihak untuk pergi .. untuk menghilang .. untuk menjauh .. untuk melarikan diri dari kenyataan .. untuk bersembunyi .. Seperti itulah perpisahan.

Aku merenungkan setiap kata-katanya.
Aku mulai memacu otakku untuk memikirkan setiap kata didalam drama. 
Akhirnya, aku menuangkan lagi setumpuk pikiran yang sejak tadi kupikirkan setelah menonton kembali drama yang sebenarnya sudah lama kunonton dan berulang kali kunonton.
Berbicara tentang perpisahan, seperti yang telah kukatakan bahwa tentu saja semua orang pernah mengalaminya. 
Hidup ini sebenarnya sederhana! Sederhana karena kita akan bertemu dengan seseorang lalu berpisah dengannya. Bertemu .. berpisah. Dua kata yang sampai akhir takan pernah terpisah.
Untuk setiap pertemuan akan ada perpisahan. 

Ah .. aku mulai basa-basi lagi. Eva .. Eva .. Kau melakukannya lagi. Haha, tawaku singkat. Aku mulai berbicara kepada diriku sendiri. Entah bagaimana aku harus mulai mengatakannya kepadamu tentang perpisahan sedangkan aku masih terluka dengan perpisahan. 

Sebuah perpisahan bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, benarkan?
Ya, Ya .. Benar! Saat ini aku sedang menjalaninya. 
Aku terluka jadi aku memutuskan berlari .. aku pergi .. aku menghilang .. aku bersembunyi .. dan lebih buruknya lagi, aku berusaha menghindari perasaanku sendiri. 
Berulang kali kukatakan kepada dia (lelaki yang kucintai) bahwa aku tak membutuhkannya, aku bisa hidup sendiri tanpanya, aku akan bahagia meski tanpanya, aku akan baik-baik saja.
Seperti itulah aku mengatakannya. Aku tahu saat aku mengatakan itu hanya akan menambah luka dihatiku, tapi aku tetap harus atau lebih tepatnya aku memaksakan diriku untuk mengatakannya kepadanya.

Drama itu mengingatkanku tentang betapa bodohnya aku mengatakan itu, betapa buruknya aku mengatakannya, betapa jahatnya aku saat mengatakannya. 
Kutahu hatiku terluka saat mengatakannya.
Kutahu hatiku menangis saat berusaha keras menghindarinya. 
Kutahu hatiku sedang menangis meronta-ronta, mencabik-cabikku. 
Sakit, iya sangat sakit! tegasku. 
Sakit hingga aku merasa hampir gila, ingin rasanya untuk kuakhiri hidupku. 
Untuk pertama kalinya aku merasa tak berguna 
Untuk pertama kalinya aku tak ingin hidup lebih lama. 

Drama ini menyadarkanku bahwa cinta yang kumiliki begitu egois terhadap dirinya. 
Keegoisanku untuk memilih berpisah dengan lelaki yang kucintai. Ego yang kuatasnamakan cinta. 
Jika aku begitu sangat mencintainya, mengapa harus melepaskannya? 
Mengapa kubiarkan dia pergi sedangkan aku sangat menginginkannya?
Mengapa tak kucegah kepergiaannya padahal aku begitu sangat merindukannya? 

Egois! pesan dari drama ini kepadaku.
Jika kau sangat .. sangat .. dan sangat mencintainya, takan mungkin kau melepaskan dia! 
Bukankah karena cinta jadi kau sangat menginginkannya? 
Bukankah karena cinta jadi kau sangat ingin memiliki dan menyentuhnya? 
Jadi bukankah melepaskan dia adalah hal terbodoh dan teregois yang kau lakukan? 
Kau pikir, kau akan baik-baik saja? Tidak .. tanya hatimu!
Bukankah kau begitu kesepian saat tak bisa lagi melihatnya? saat tak bisa lagi mendengar suaranya? saat tak bisa lagi menyentuhnya? 
Bukankah semua itu membuatmu sangat merindukannya? 
Bukankah semua itu membuatmu ingin mati saat ruang dihatimu terasa kosong tanpa tuan rumahnya? 

Lalu mengapa kau biarkan cintamu pergi? 
Jangan membuat dirimu terluka saat dia berada dipelukan orang lain! 
Jangan siksa dirimu lebih banyak! Kembalikan kepada pemiliknya.
Jangan membuat dirimu menderita lebih dari ini saat dia tak lagi ada di kehidupan ini, jika kamu tak ingin ada penyesalan yang kau pikul selama sisa hidupmu.

Drama ini menyuruhku .. "Hei bodoh! Kejarlah cintamu! Katakan kepadanya betapa kamu sangat mencintai dirinya! Jangan biarkan dia lepas dari genggamanmu! Jika kamu tidak melakukannya .. kamu akan menyesalinya! Kamu merindukannya, kamu menginginkannya disisimu, kamu sangat mencintainya .. jangan hindari itu! Biarkanlah luka ada pada tempatnya, dan biarkan kenangan baru yang kalian ciptakan bersama tumbuh, lalu menyiramnya hingga ia tumbuh subur dan berbunga." 

Perpisahan memang menyakitkan .. tetapi jika saling mencintai, kembalilah, jangan melakukan hal bodoh! 
Jika kamu mencintainya, katakanlah kepadanya setiap saat betapa kamu sangat mencintainya. Karena perpisahan yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan akibat cinta tapi karena kematian.
Jangan sampai kamu menyesal tak lagi bisa mengatakan betapa kamu sangat mencintainya saat kamu tak lagi merasakan hembusan dari tiap helaan nafasnya, saat dia sedang merebahkan kepalanya dilenganmu saat tidur, atau saat kamu tak lagi bisa menyentuhnya dan memeluknya.

***

note: drama yang kunonton itu rahasia! oh .. tulisan tentang perpisahan ini adalah ingatanku tentang perpisahan yang kualami dengan lelaki yang kucintai sudah setahun lebih ini berpisah dengannya, lelaki yang selalu menjadi sosok dalam hampir sebagian besar tulisanku. 

Kamis, 08 Januari 2015

Bad or Best Judge

Halo kamu yang setia membaca tulisan di blog-ku! Apa kabar? Aku berharap kamu sedang baik-baik saja. Ah, sudah lama kita tidak saling berbicara lewat tulisan-ku. Aku sempat bertanya, apakah kamu memang benar-benar menyukai tulisanku? ataukah hanya karena kamu mengagumiku jadi tulisanku walaupun tak secantik wajahku, kamu berusaha untuk menyukainya. Haha.. Sorry, I am joke! Tapi terima kasih sudah selalu membaca tulisan-ku. Aku akan berusaha lebih baik dalam menulis. Terima kasih untuk dukungannya.

Hm, kau tahu .. aku sebenarnya tipe yang sangat kuat berkhayal, bermimpi, berangan-angan. Ya seperti itulah aku. Aku selalu menginginkan kehidupanku seperti yang sering terjadi di drama korea. Banyak hal yang selalu aku andaikan seperti drama korea, yang kutahu itu tak mungkin terjadi. Mungkin karena hal ini aku punya haters. Selain itu, aku tipe yang banyak berbicara dan sering menuangkan apa yang aku rasakan dalam sebuah tulisan, kutipan, status, tweet, dan lain sebagainya. Bagiku itu adalah hal yang biasa saja, tapi ternyata bagi orang lain itu tidak biasa saja. Mereka menyebutnya sebagai sebuah ke-alay-an.

Anyway, soal haters.. Aku sendiri tak tahu harus ngomong apa. Aku sendiri tak tahu harus bersikap bagaimana agar mereka tak selalu membicarakanku dibelakangku. Benar-benar ini sangat membuat stress tersendiri bagi diriku. Apa aku harus bersikap seperti yang mereka mau? Kalau aku melakukan seperti itu, sama artinya dengan aku tak menghargai apa adanya aku. Maksudnya aku tak menghargai diriku sendiri, dan malah bersikap sebagai seseorang yang sebenarnya bukan aku. 

Tapi kupikir-pikir, haters memang seperti itu. Mau kita lakuin apapun, mau kita bicara apapun dan lain sebagainya adalah sesuatu yang bagi mereka bukan hal yang harus mereka terima dengan baik. Ini benar-benar membuat frustasi. Benarkan?

Tapi setelah kupikir lagi, memang omongan mereka membuat kita frustasi tapi ada baiknya juga karena dari mereka kita belajar bagaimana membuat diri kita lebih baik dari setiap inchi perjalanan hidup kita.

Maka dari itu, aku belajar untuk cukup tahu bahwa mereka membenciku.. aku coba untuk menerima apa yang mereka omongkan (meski terkadang kepalaku seperti bom yang bisa meledak setelah terlalu berlebihan mendengar), aku biarkan saja mereka sesuka hati mereka. Aku cukup tahu saja. Tapi aku tidak akan menjadi seseorang yang lain yang bukan diriku seperti yang mereka mau. Aku hanya akan menjadi aku, tapi akan terus berusaha menjadi lebih baik.