one day, you will know ..

Kamis, 30 Oktober 2014

Suatu Senja Tentang Kamu


Suatu senja langit kota Manado 
Rintik hujan turun membahasahi tanah 
Kuhirup bau tanah yang basah 
Kuulurkan tangan menerima rintik hujan yang jatuh ketanah melewatinya 
Ah, hujan ini mengingatkanku tentang kamu. 
Wajah yang masih dapat kutangkap bayangnya 
Senyummu, tawamu, marahmu, bahkan semua ekspresi yang tampak diwajahmu masih kuingat meski samar-samar 
Aku menarik napas, sudah setahun kekasih .. sudah setahun kita berpisah, tak lagi ada kata kita. 
Sudah setahun dan kau masih menjadi muara rinduku 
Sudah setahun namun cinta dihati masih tersimpan untukmu. 

Suatu senja langit kota Manado, 
Suatu senja yang mengingatkanku tentang percakapanku dengan seseorang. 
Dia bertanya kepadaku tentang kamu. 
"Apakah kamu masih mencintainya?"
Aku diam 
"Benarkah kamu masih mencintai dia yang jelas-jelas sudah meninggalkanmu?" 
Aku masih terdiam 
"Jika memang masih mencintainya, mengapa kamu tidak berjuang untuknya? Mengapa kamu membiarkan dia pergi?" 
Aku menatap matanya dengan senyuman kecil dibibirku. 
Dia sempat mengerutkan keningnya sebelum kujawab pertanyaannya. 

Kamu tidak tahu apa yang telah aku lewati 
Jika kukatakan kamu tidak mengerti isi hatiku dan jalan pikiranku, itu salah karena kita dua manusia yang berbeda 
Kedalaman hati seseorang tidak mampu kau ukur 
Kejauhan jalan pikiran seseorang tidak mampu kau hitung

Ya, ya, ya! Tegasku
Aku memang masih mencintainya 
Lantas mengapa? 
Dosakah aku masih menyimpan cinta untuk dia?
Jika itu adalah dosa, maka akan kuminta Tuhan agar mengampuni dosa yang kulakukan setiap hari karena masih mencintai lelaki seperti dia. 
Ya, ya, ya! Tegasku 
Aku memang masih mencintainya 
Lantas mengapa?
Mengejarnya? Mengemis cintanya? Merengek agar dia kembali kepadaku?
Tidak! Tegasku dengan lantang 
Aku tidak akan melakukannya (lagi) ! 
Aku wanita yang pernah mencintainya (dan masih mencintainya) 
Aku mengenal sebagian dari hidupnya yang pernah menjadi milikku 
Aku pernah memberikan yang terbaik baginya 
Namun baginya itu belum cukup untuk membuat ia bertahan disamping wanita sebodoh, segila, dan sekonyol diriku yang sangat mencintainya 
Aku tahu bahagianya 
Bahagianya bukan berbagi dunianya, kepentingannya, hidupnya bersama wanita sepertiku
Bahagianya adalah menemukan yang menurutnya pantas mendapatkan cinta dan hatinya. 
Aku membiarkannya pergi 
Aku membiarkannya memilih jalan yang terbaik baginya 
Aku membiarkannya mendapati bahagia yang tak pernah ia temukan ada pada diriku 
Karena aku wanita yang mencintainya. 

Kata orang, jika kamu memang benar-benar mencintai seseorang kamu tidak akan melepaskannya. 
Iya benar. Aku mengakui pernyataan itu. 
Tapi salah jika orang berpikir karena tidak benar-benar mencintai maka melepaskan. 
Tidak .. Tidak setiap kisah cinta mempunyai konsep seperti itu. 
Kadang jika kamu mencintai seseorang tapi jika dia ingin pergi juga dari hidupmu, maka biarkan dia pergi. 
Untuk apa kita mempertahankan seseorang yang tidak pernah mendapati kebahagiaannya bersama kita? Bukankah itu cukup egois?
Aku memang wanita egois, kuakui itu. 
Tapi jika itu untuk lelaki yang kucintai, kuhapus keegoisanku demi bahagianya. 
Bagiku adalah bahagianya lebih penting dari bahagiaku sendiri. 

Ya, ya, ya, aku masih mencintainya sampai saat ini. 
Tapi memangnya aku bisa apa?
Berjuang mempertahankannya? Sudah 
Aku sudah pernah melakukannya. 
Merengek padanya agar jangan pergi? Sudah 
Aku sudah pernah melakukannya juga. 
Tapi memangnya aku bisa apa jika dia yang ingin pergi?
Memangnya aku bisa apa lagi jika dia bahkan tak mencoba berjuang bersamaku? 
Memangnya aku bisa apa lagi jika cinta tak bisa mempertahankan hubungan kami lagi? 
Terlalu banyak perdebatan antara kami yang bahkan tak bisa kuhindari dari emosiku dan emosinya 
Terlalu banyak kata menyakitkan yang saling terucap keluar dari mulut kami berdua 
Tak lagi ada bahagia, tak lagi ada tawa seperti dulu 
Tertinggal luka dan duka yang menyakiti kami 

Ya, aku sangat mencintainya sobat. 
Tapi aku tidak akan lagi melakukan hal bodoh yang pernah kulakukan hanya untuk mendapatkannya kembali. 
Aku memahami pilihannya 
Aku menghargai pilihannya 
Meskipun aku tahu pilihan itu membuat luka dan duka dihatiku semakin menyesakkan dada 
Aku terluka tapi ada sedikit bahagia melihat dia yang kucintai bahagia dengan pilihannya. 
Aku wanita yang punya cinta terbesar yang pernah ada untuknya tapi cinta sebesar itu tak membuat dia mendapati bahagianya denganku 
Kupikir, inilah yang terbaik untuknya
Karena aku wanita yang mencintainya.

Dia (yang bertanya kepadaku) menatapku tanpa berbicara sepatah katapun, namun matanya berkaca-kaca, butiran bening yang sedaritadi tertampung di konjungtiva miliknya hampir saja membasahi kedua belahan pipinya namun tawaku membuat airmata itu terhenti. 
Dia memelukku sambil tersenyum. Aku membalas pelukannya. 
"Kamu wanita terhebat yang pernah kutemui" akunya 
Aku menepuk-nepuk lembut pundaknya sebelum melepas pelukannya. 

Suatu senja tentang kamu .. 
Terima kasih atas luka dan duka 
Terima kasih karenamu aku cukup tangguh melewati hariku meski tanpa kamu :) 

Selasa, 28 Oktober 2014

Kepergian yang Sia-sia


dear kamu 
 
Sudah setahun aku dan kau bukan lagi kita
Sudah setahun ini kita berpisah 
Tak ada lagi kata sayang, 
Tak ada lagi kata rindu.
Kita benar-benar sudah berakhir! 
Kau pergi 

Namun kekasih, 
Kepergianmu masih meninggalkan bekas dihati 
Luka dan duka datang disela-sela bahagiaku 
Saling bergantian membuatku dirasuki kalbu rindu 
Sakit .. 
Kepergianmu meninggalkan jejak luka yang tak bertepi 
Kepergianmu meninggalkan duka yang dalam dan tak terselami 

Aku duduk sendiri, berusaha menguatkan hatiku 
Aku tahu aku cukup tegar untuk melewatinya 
Dalam kesendirian, aku menangis 
Bahkan saat ku di keramaian, aku masih menahan tangis 
 
Jarum jam yang berdetik seakan berhenti 
Getar suara hatiku yang menahan sakit berteriak "Aku terluka" 
Cinta yang bagiku ia adalah segala-galanya, 
Cinta itu pula yang berbalik menusukku dengan belati tepat di jantungku 
Aku hampir mati karena cintaku kepadamu 
 
Namun kekasih, 
Meski ada luka dihatiku 
Juga ada duka yang dalam 
Bahkan aku menangis berulang kali karena sakitnya 
Meskipun aku hampir mati karenanya, 
Kau tahu, cinta ini masih untukmu. 

Sia-sia saja jika kamu memberi luka sedalam apapun, mulutku bisa mengatakan aku membencimu tapi diriku tidak pernah bisa membohongi hatiku 

Sia-sia saja!
Luka yang kau beri tak bisa menghapus rasa sayangku yang masih tertata untukmu 
Bekas airmata yang pernah mengalir dan selalu mengalir untukmu, tak bisa menghapus jejak kenangan yang pernah terukir antara kita 
Duka yang dalam takan bisa menghilangkan ingatan tentangmu 

Sia-sia saja .. 
Kepergianmu takan bisa membuat dirimu bukan lagi pemilik hatiku 
Kau masih dan seterusnya mungkin masih menjadi pemilik hatiku 
 
Untuk saat ini aku belum bisa melepaskan hatiku dari cintaku kepadamu. 
Untuk saat ini ia masih mencintaimu. 
 
 

Kamis, 02 Oktober 2014

Aku (Tidak) Baik-baik Saja!


Orang-orang mengatakan bahwa aku harus kuat, aku tidak boleh lemah. 
Orang-orang membolehkan aku menangis, 
Tapi setelah itu mereka menyuruhku untuk melupakan rasa sakitku. 
Orang-orang mengatakan dia yang telah mematahkan hatiku tidak boleh tahu kelemahanku. 

"Tapi bagaimana mungkin?" tuturku dalam hati

Iya, aku kuat! Iya, aku tidak lemah!
Tapi hanya sekilas nampak dari luar. 
Iya aku menangis, sesering aku merindukan dia dan kenangan kami. 
Tapi bagaimana mungkin aku bisa melupakan rasa sakitku?
Iya aku sudah sangat mengusahakan untuk tidak menjadi lemah didepan dia. 
Tapi apakah kamu tahu kalau ini sangat menyakitkan? 
Bahkan untuk pria seperti dia yang telah mematahkan hatiku menjadi berkeping-keping,
Bahkan untuk pria yang kubenci karena meninggalkanku seolah semua selama ini adalah sia-sia, 
Bahkan untuk pria yang membuat aku terjatuh dan merasa mati, 
Aku masih bisa menangis, bahkan tangisanku semakin hari semakin bertambah rasa sakitnya. 
Rasa sakit yang berulang kali telah kugambarkan bahwa itu seperti rasa sesak didada. 
 
Orang-orang hanya tahu aku tertawa, aku tersenyum. Iya memang! 
Tapi mereka tidak tahu jauh didalam hatiku, ia sedang menangis. 
Sakit .. sakit .. sakit .. sakit .. sakit .. sakit ..
Entah berapa kali aku sudah mengatakan kata-kata itu, yang kutahu memang sakit. 
Jika ada yang bertanya tentang airmata yang kadang masih kelihatan basah dipipiku, aku selalu mengatakan "Tidak apa-apa hanya kemasukan debu," atau beberapa hal lain yang kuucap bahkan terkadang aku mengatakannya sambil tertawa. Tapi ternyata berpura-pura baik-baik saja itu lebih menyakitkan dari apapun. 

Orang-orang mengatakan aku harus mengeluarkan segala perasaanku 
Tapi bagaimana mungkin aku mengeluarkan rasa sakitku jika bukan pada dia yang kumaksud? 
Aku hanya terus berusaha menyimpan semua sendiri 
Aku hanya terus berusaha tampak kuat, agar dia tahu aku tidak lemah, aku tidak menangis dan aku baik-baik saja. 

Orang-orang hanya tahu aku baik-baik saja tapi sekilas nampak dari luar tapi bagaimana dengan hatiku? Hanya Tuhan dan kamarku yang tahu.