"Kamu yang disana, apakah kamu baik-baik saja? Kuharap kamu menjawab, iya. Iya bahwa kamu baik-baik saja .. meski tanpaku.
Kamu yang disana, sedang apakah kamu? Kuharap .. ah, tidak! tidak! untuk pertanyaan ini aku tak berani berharap kamu sedang memikirkanku, sama seperti aku memikirkanmu .. selalu.
Kamu yang disana, kamu dimana? dan dengan siapa kamu?
Kamu sudah makan? jangan lupa makan ya .."
Aku ingin sekali menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu padamu.
Namun kuharus menahan hati untuk menelan kekecewaan bahwa pada kenyataannya aku tak mampu lagi untuk menanyakannya sendiri kepadamu.
No! No! No! Bukan berarti karena aku mengatakan "Aku tak mampu bertanya langsung kepadamu," adalah bahwa aku tak mencintaimu lagi. Salah, sejujurnya aku masih sangat mencintaimu. Ya, kutulis kalimat "Aku masih sangat mencintaimu," ini dengan senyum dibelahan bibirku artinya perasaan ini masih sama, sejak pertama mengenalmu, sejak pertama jatuh hati padamu lalu meletakkan hatiku menjadi milikmu dan sampai detik ini, besok, lusa dan sampai waktu yang tak bisa kutargetkan berapa lama, aku mencintaimu. Karena itu, aku mencoba membaca pikiranmu. Aku mencoba menyelami tiap inchi dari kenangan yang terlewati lalu aku mulai berpikir sejenak, kurasa.. aku mulai mengerti, setiap luka yang tak sengaja kutanamkan dihatimu. Sakitkah itu? Pasti iya kan? Ah penatkah saat aku merengek-rengek meminta lebih darimu? Pasti penat, iya kan? Aku tahu dan aku sadari aku dulu seolah menyalakanmu atas setiap rasa sakit yang kamu berikan seperti selingkuh, pengabaian atau amarahmu. Aku menyalakanmu atas itu namun tanpa kusadari waktu itu aku pun menyakitimu. Benarkan? Aku kira kalau saat ini kamu membaca tulisanku, akan kamu jawab dengan kata iya. Well, I'm so sorry to hurt you.
Sekarang aku berpikir, yah .. walau ini menyakitiku namun aku harus mengatakannya. Wajar saja dulu kamu selingkuh, mungkin karena aku. Aku yang tak mengerti kamu, tak memahamimu, tak perhatian kepadamu, tak terlalu peduli padamu, tak bisa menjadi seperti yang kamu mau dan ingini, tak bisa memberikan segala kebahagiaan .. ya, itu pasti alasan-alasan mengapa kamu selingkuh.
Wajar saja dulu kamu seringkali mengabaikanku karena aku yang selalu merengek-rengek padamu meminta lebih kepadamu, seperti perhatian yang lebih darimu terutama saat aku sedang kesepian karena merindukanmu yang terpisah ribuan kilometer jaraknya denganku, saat aku sedang ada masalah dan aku butuh tempat berbagi cerita dan kumerengek meminta kamu mendengarnya, dan masih ada beberapa hal lain yang tak mungkin juga kuderetkan satu per satu. Ah, rengekanku .. tingkahku .. setiap hal itu pasti membuat kamu terusik hingga membuat kepalamu penat dan memilih mendiamkanku dan itu kuanggap pengabaianmu terhadapku. Aku sungguh childish! Aku tahu kamu akan menjawabnya dengan kata, iya!
Wajar saja dalam setiap pertengkaran kita, sering kata-kata kasarmu keluar menyakitiku, seringkali pula kata-kata itu membuat airmataku berlinang pelan membasahi kedua pipiku. Itu karena aku lagi kan? Aku terlalu egois, maunya menang sendiri, maunya memaksakan kehendakku agar dituruti. Mungkin karena aku terlalu terbiasa dimanjakan, sehingga aku membuat kamu pun harus memanjakanku atau kamu menyenangi sikap manjaku, secara garis besarnya seperti itu. Padahal mungkin saja kamu sudah terlalu muak bertahun-tahun denganku yang seperti ini : Manja, kekanak-kanakan, egois dan sederetan sikap burukku yang lain.
Wajar saja ..
Setelah selesai mengingat setiap kenangan yang terlewati dan setelah kupuas menyelami setiap sudut dipikiranmu, aku rasa kamu benar.
"Jika yang pertama bisa membuatmu bahagia mengapa harus ada yang kedua? Tapi karena yang pertama tak mampu membuatmu bahagia, jadi yang kedua pun masuk dan saat itu terjadi.. pilih yang kedua."
Emm .. maaf. Tapi sepertiya aku sangat memahami maksud dari statusmu yang kuperjelaskan dalam kalimat yang kupermudahkan untuk dapat diterima dengan baik oleh pikiranku dan hatiku. Kira-kira seperti itu. Aku yakin aku tak salah menafsirkan setiap kata yang kamu tulis maupun kamu katakan diwaktu yang lalu kepadaku.
Emm .. maaf. Tapi sepertiya aku sangat memahami maksud dari statusmu yang kuperjelaskan dalam kalimat yang kupermudahkan untuk dapat diterima dengan baik oleh pikiranku dan hatiku. Kira-kira seperti itu. Aku yakin aku tak salah menafsirkan setiap kata yang kamu tulis maupun kamu katakan diwaktu yang lalu kepadaku.
Iya .. iya .. iya.
Setiap kata-katamu adalah benar dan aku salah.
Aku akui aku memang manja, aku kekanak-kanakan, aku egois. I know that!
Aku ini seseorang yang tidak cukup baik untukmu.
Aku ini tidak pantas untuk mendapatkan cintamu.
Aku ini tidak pantas untuk memiliki kamu.
Aku sangat tidak pantas untuk menjadi wanitamu, apalagi sampai menjadi wanita pendamping masa tuamu.
Aku tidak bisa membahagiakanmu!
Karena itu, tiap kewajaran yang sudah kuderetkan diatas membuat aku sadar alasan kamu meninggalkanku, alasan kamu membuangku, alasan kamu mencampakanku, alasan kamu memilih yang kedua berdasar statusmu adalah karena kesalahanku.
So, karena semua kesalahanku .. Aku memilih diam. Maksudku, diam dalam sepiku sendiri dan tetap menyimpan namamu dihatiku dan mencintaimu tanpa kamu tahu, mungkin itu lebih baik untuk kebahagiaanmu. Bukankah selama denganku kamu merasa tak pernah puas memilikiku? Bukankah selama denganku kamu tersiksa? Ya, aku mulai memikirkan ini jadi lebih baik kita seperti ini. Terpisah .. dan dengan begitu kamu bisa bebas mencari, memilih dan menemukan seorang wanita yang tepat bagimu, yang lebih baik bagimu, yang lebih segalanya dariku, dan terutama dia bukan yang pertama atau kedua tapi satu-satunya yang membuatmu bahagia.
Aku tahu saat itu akan tiba .. saat dimana aku tersenyum dalam tangisku melihat kamu mencintai orang lain tapi semua demi kebahagiaanmu karena aku tak bisa membahagiakanmu seperti yang kamu maksudkan.
Meski aku sangat terluka,
Meski aku sangat terluka,
Meski aku harus membuang sia-sia airmataku tuk menangisimu,
Meski aku harus merindukanmu setiap malam
dan meski aku menjadi gila setiap kali mengingat kenangan kita bersama dan jalan yang telah kita tempuh sejauh itu,
Namun akan kutetap bertahan dalam sepi merindukanmu dan mencintaimu dalam diam tanpa kamu tahu.
Takan lagi ada gangguan kecilku yang mengusikmu, percayalah.
Takan lagi ada telponku yang berdering memaksamu untuk mengangkatnya dan mendengar rengekan rinduku padamu.
Takan lagi ada sms seolah sedang meminta kamu membalasnya dan lebih mencintaiku.
Percayalah .. aku tahu kamu sudah terpaksa mencintaiku atau mungkin kamu tak pernah mencintaiku karena tak pernah merasa bahagia denganku. Justru aku selalu saja menambah bebanmu, seolah akulah beban dipundakmu.
Sekarang, tak apa .. aku mengerti, aku memahamimu. Pergi dan pilih saja yang bisa membuatmu bahagia dan aku tahu itu bukan aku jadi aku takan lagi berharap, aku terlalu takut untuk sangat terluka. Pergi saja, aku tak apa .. aku baik-baik saja hanya saja aku sangat merindukanmu, merindukan sosok yang dulu sangat atau sedang berpura-pura mencintaiku. Tapi tetap saja, pergi dan temui bahagiamu yang tak pernah bisa kuberikan sesuai apa yang kamu mau dan inginkan.
Jika sudah kamu temukan, aku harap kamu bahagia bersamanya.
Maaf aku tak pernah bisa membahagiakanmu .. meski sudah terlalu banyak hal yang kucoba tuk membahagiakanmu bertahun-tahun tapi semua belum cukup mampu untuk bahagiakanmu.
Tetaplah bahagia .. karena bila kamu bahagia, aku pun akan berbahagia untukmu.
dari : Masa lalumu yang tak bisa membahagiakanmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar