Aku berubah!
Kurasakan ada yang berbeda dari diriku sendiri.
Aku tak lagi bawel,
aku tak lagi cerewet,
aku tak lagi mengeluarkan segala kekesalanku dengan marah-marah,
aku tak lagi mengeluarkan segala kekesalanku dengan marah-marah,
aku tak lagi mengomel,
aku bahkan tak lagi menangis.
Pada intinya aku berhenti menjadi diriku.
Aku tak lagi seperti ini dan seperti itu padamu.
Seperti layaknya aku dulu.
Tentu kamu sudah tahu bagaimana bawel atau cerewetnya aku saat kita sedang berbincang lewat aksara telpon genggam maupun pesan, dan sekarang aku tak lagi seperti itu.
Karena aku tahu kamu membencinya!
Tentu kamu sudah tahu bagaimana bawel atau cerewetnya aku saat kita sedang berbincang lewat aksara telpon genggam maupun pesan, dan sekarang aku tak lagi seperti itu.
Karena aku tahu kamu membencinya!
Bukankah kamu sering mengatakannya?
Ya, itu sering kamu katakan saat aku sedang berusaha mencari-cari perhatianmu disaat kamu lebih memilih meluangkan waktumu bersama duniamu dimana aku tak pernah kamu seret masuk didalamnya saat kita terpisah oleh ribuan kilometer jarak dan zona waktu, dan yang selalu berujung membuat kita bertengkar dan dipusingkan dengan segala kericuhan itu. Lalu kamu lelah dan kamu mendiamkanku.
Oke! Semua itu kesalahanku. Mungkin aku terlalu banyak menuntut dengan kalimat-kalimat manjaku, kalimat-kalimat yang seolah meminta kamu lebih dan lebih. Tapi andai saja kita bisa bertukar posisi, kamu akan tahu betapa aku membutuhkan waktumu. Takan lama .. aku hanya butuh waktu untuk kita saling mereview masa-masa indah kita dan masa-masa suram kita, lalu kita memperbaikinya. Maksudku adalah kita saling berbicara dari hati ke hati, agar kita sama-sama saling mengerti posisi kita, gimana aku jadi kamu dan kamu jadi aku dan jadi diri kita sendiri.
Tapi sudahlah .. menjelaskan panjang lebar pun kamu tak pernah mempedulikan keadaan hatiku.
Aku tak menyalahkanmu saat kamu tak bisa membagi waktumu sebaik masa-masa kita dekat. Aku bahkan tak menyalahkanmu saat kamu melukai hatiku dengan kalimat-kalimat yang membuat amarahku sampai pada puncaknya lalu memaki-maki semua yang terjadi. Aku tak menyalahkanmu! Karena aku tahu kamu membenci diriku yang bagimu seperti seorang anak kecil yang sedang merengek minta dibelikan sebuah mainan. Aku tahu kamu membenci diriku yang terkesan manja dan selalu tak pernah bisa mengerti dirimu.
Mungkin kamu benar, aku tak pernah mengerti dan memahamimu. Tapi coba pikirkan lagi ini, saat kamu bilang sibuk, nanti saja, kamu sudah bosan, kamu sudah lelah, aku hanya membalasnya dengan iya aku mengerti. Itu saat-saat dimana hatiku terluka. Kamu tahu masa-masa dimana aku sangat membutuhkanmu tapi kamu tak pernah ada untukku. Sekali atau bahkan duakali aku bisa saja memahami itu tapi jika kamu ada diposisiku, dan hal itu terus terjadi berulang kali bagaimanakah hatimu? Kalau kamu memang sangat mencintaiku pasti kamu sangat terluka bila kulakukan hal yang sama padamu.
Aku tak menyalahkanmu saat kamu tak bisa membagi waktumu sebaik masa-masa kita dekat. Aku bahkan tak menyalahkanmu saat kamu melukai hatiku dengan kalimat-kalimat yang membuat amarahku sampai pada puncaknya lalu memaki-maki semua yang terjadi. Aku tak menyalahkanmu! Karena aku tahu kamu membenci diriku yang bagimu seperti seorang anak kecil yang sedang merengek minta dibelikan sebuah mainan. Aku tahu kamu membenci diriku yang terkesan manja dan selalu tak pernah bisa mengerti dirimu.
Mungkin kamu benar, aku tak pernah mengerti dan memahamimu. Tapi coba pikirkan lagi ini, saat kamu bilang sibuk, nanti saja, kamu sudah bosan, kamu sudah lelah, aku hanya membalasnya dengan iya aku mengerti. Itu saat-saat dimana hatiku terluka. Kamu tahu masa-masa dimana aku sangat membutuhkanmu tapi kamu tak pernah ada untukku. Sekali atau bahkan duakali aku bisa saja memahami itu tapi jika kamu ada diposisiku, dan hal itu terus terjadi berulang kali bagaimanakah hatimu? Kalau kamu memang sangat mencintaiku pasti kamu sangat terluka bila kulakukan hal yang sama padamu.
Ya, maaf .. aku seperti anak kecil yang selalu memusingkanmu dengan manjaku, rengekanku, kalimat-kalimat yang mungkin menyudutkan bagimu.
Ini aku .. dan ini diriku yang selalu berusaha mencari perhatianmu dan waktumu untuk mengobrol singkat denganku membicarakan tentang kita. Hanya itu yang kumau.
Lalu sekarang .. saat aku sudah berubah menjadi seperti apa yang kuinginkan, kamu malah terus menyakitiku.
Aku berusaha menyampaikan uneg-unegku dalam arti curhat denganmu, tapi kamu tetap masih sibuk dengan duniamu bahkan tak melihat keadaanku disini yang sedang berusaha belajar menjadi dewasa seperti yang kau pinta. Kamu menyatakan kalimat-kalimat yang membuat airmataku langsung saja turun layaknya aku tak tahu menempatkan posisi yang kasarnya aku tak tahu malu, sebut saja seperti itu.
Lalu sekarang .. saat aku sudah berubah menjadi seperti apa yang kuinginkan, kamu malah terus menyakitiku.
Aku berusaha menyampaikan uneg-unegku dalam arti curhat denganmu, tapi kamu tetap masih sibuk dengan duniamu bahkan tak melihat keadaanku disini yang sedang berusaha belajar menjadi dewasa seperti yang kau pinta. Kamu menyatakan kalimat-kalimat yang membuat airmataku langsung saja turun layaknya aku tak tahu menempatkan posisi yang kasarnya aku tak tahu malu, sebut saja seperti itu.
Jadi apalagi yang harus kulakukan?
Mencoba menyampaikan segala sesuatu dengan pelan bukan mengomel padamu, bukan merengek padamu tapi kamu masih terus menyakitiku dan tak pernah kamu sadari itu.
Semua orang pasti berpikir aku ini wanita bodoh yang masih terus bertahan denganmu padahal hatiku mungkin saja sudah tidak terbentuk utuh. Tapi mereka hanya tidak tahu kalau ini cintaku tulus padamu. Aku bodoh atau bahkan lebih bodoh dari ini, tapi aku benar-benar ingin bertahan karena aku sangat mencintaimu. Entah kapan kamu menyadarinya dan melihat keadaanku yang ingin waktumu untuk kita membahas tentang keadaan kita, tentang kamu dan tentang aku .. aku akan menunggu dengan sabar walau itu bukan diriku. Aku berusaha menjadi sosok wanita yang kamu benar-benar sukai, bukan kamu cintai tapi benci, meski harus menahan segalanya.
Aku sedang berusaha dewasa menghadapimu bukan layaknya aku dulu yang bagimu itu sangat kekanak-kanakan. Kuharap saat kamu membaca ini, kamu pun tahu bukan cuma kamu yang butuh diperhatikan, aku juga.
Maaf bila aku belum sesempurna yang kau inginkan
